![]() |
| by google |
Pepohonannya
rimbun, airnya mengalir deras, pun dengan kolam-kolam yang bening oleh air yang
berasal dari gunung. Sesekali saya dikagetkan oleh kupu-kupu indah yang
melintas di depan mata. Jejeran pedagang kaki lima sengaja berdiri rapi di
pinggir jalan. Jalanan masuk ke pemandian cukup jauh, tapi itu tak terasa
karena suhu dingin yang menusuk-nusuk di kulit menggantikan hawa panas yang berjam-jam
saya nikmati selama perjalanan. Juga ada banyak turis di sana.
Adalah
Bantimurung, salah satu kecamatan di Maros, Sulawesi Selatan. Bantimurug
terkenal karena wisata alamnya yang indah. Udara dingin dan sejuk membuat saya
sengaja menghirup nafas dalam dalam, hal ini karena saya tidak menemukan hawa
seindah itu di Makassar.
Sejak
SMA saya sering mendengar Bantimurung. Saya biasa mendengar keindahan
Bantimurung dari kakak senior. Ada ritual khusus yang melekat di sekolahku. Biasanya,
setelah pengumuman ujian nasional, alumni sekolah saya diajak berwisata ke luar
kabupaten dan Maros menjadi objek yang paling sering dikunjungi. Saya pun
selalu bermimpi cepat menyelesaikan studi di SMA. Sayang, karena sebuah insiden
terjadi, sehingga tak ada liburan setelah ujian, tak ada objek wisata yang saya
kunjungi.
Namun,
sejak menginjakkan kaki di Unhas, hampir sepuluh kali saya mengunjungi tempat
pariwisata itu. Dan setiap kali ke sana, hanya takjub yang sering saya
gumamkan. Bantimurung itu sangat indah. Di sana, saya hanya melihat gelak tawa,
kebahagiaan dan senyum takjub dari pengunjung. Saya tau, mereka sama dengan
saya, senang karena keindahan alam yang disajikan.
Tapi,
ketika saya berjalan-jalan sembari memperhatikan geliat lucu orang-orang di
sana, saya melihat sekumpulan anak kecil. Mereka tampaknya sibuk
menggaruk-garuk bungkusan nasi, “ah, itu tumpukan sampah,” gumamku. Saya sengaja
tak memerhatikan bocah bocah itu, tapi mereka nampaknya sesekali melihat ke arahku.
“ini
bagus, ini masih bagus,” kata seseorang di antara kerumunan anak kecil itu.
“saya
yang ini saja,” terdengar mereka saling menimpali.
Tidak
ada raut kesedihan di antara mereka. Saling menertawai, beberapa memegang telur
masak yang sudah diberi bumbu, hingga warnanya memerah, dilengkapi biji-biji
yang kecoklatan dari cabe. Mereka nampaknya menikmati kerjaan itu.
Di tempat
yang berbeda, di sebuah rumah makan mahal lagi bergengsi, saya sering menemukan
sisa makanan yang sering kali sengaja tak dihabiskan oleh pengunjung restoran. Padahal,
mereka sudah mengeluarkan banyak uang demi duduk berlama-lama di ruang ber-AC
dan menikmati makanan yang bagi saya tidak begitu nikmat.
Saya
masih sering membingungkan tentang keadilan dan keseimbangan.






