Monday, September 30, 2013

Bocah


by google

Pepohonannya rimbun, airnya mengalir deras, pun dengan kolam-kolam yang bening oleh air yang berasal dari gunung. Sesekali saya dikagetkan oleh kupu-kupu indah yang melintas di depan mata. Jejeran pedagang kaki lima sengaja berdiri rapi di pinggir jalan. Jalanan masuk ke pemandian cukup jauh, tapi itu tak terasa karena suhu dingin yang menusuk-nusuk di kulit menggantikan hawa panas yang berjam-jam saya nikmati selama perjalanan. Juga ada banyak turis di sana.
Adalah Bantimurung, salah satu kecamatan di Maros, Sulawesi Selatan. Bantimurug terkenal karena wisata alamnya yang indah. Udara dingin dan sejuk membuat saya sengaja menghirup nafas dalam dalam, hal ini karena saya tidak menemukan hawa seindah itu di Makassar.
Sejak SMA saya sering mendengar Bantimurung. Saya biasa mendengar keindahan Bantimurung dari kakak senior. Ada ritual khusus yang melekat di sekolahku. Biasanya, setelah pengumuman ujian nasional, alumni sekolah saya diajak berwisata ke luar kabupaten dan Maros menjadi objek yang paling sering dikunjungi. Saya pun selalu bermimpi cepat menyelesaikan studi di SMA. Sayang, karena sebuah insiden terjadi, sehingga tak ada liburan setelah ujian, tak ada objek wisata yang saya kunjungi.
Namun, sejak menginjakkan kaki di Unhas, hampir sepuluh kali saya mengunjungi tempat pariwisata itu. Dan setiap kali ke sana, hanya takjub yang sering saya gumamkan. Bantimurung itu sangat indah. Di sana, saya hanya melihat gelak tawa, kebahagiaan dan senyum takjub dari pengunjung. Saya tau, mereka sama dengan saya, senang karena keindahan alam yang disajikan.
Tapi, ketika saya berjalan-jalan sembari memperhatikan geliat lucu orang-orang di sana, saya melihat sekumpulan anak kecil. Mereka tampaknya sibuk menggaruk-garuk bungkusan nasi, “ah, itu tumpukan sampah,” gumamku. Saya sengaja tak memerhatikan bocah bocah itu, tapi mereka nampaknya sesekali melihat ke arahku.
“ini bagus, ini masih bagus,” kata seseorang di antara kerumunan anak kecil itu.
“saya yang ini saja,” terdengar mereka saling menimpali.
Tidak ada raut kesedihan di antara mereka. Saling menertawai, beberapa memegang telur masak yang sudah diberi bumbu, hingga warnanya memerah, dilengkapi biji-biji yang kecoklatan dari cabe. Mereka nampaknya menikmati kerjaan itu.
Di tempat yang berbeda, di sebuah rumah makan mahal lagi bergengsi, saya sering menemukan sisa makanan yang sering kali sengaja tak dihabiskan oleh pengunjung restoran. Padahal, mereka sudah mengeluarkan banyak uang demi duduk berlama-lama di ruang ber-AC dan menikmati makanan yang bagi saya tidak begitu nikmat.
Saya masih sering membingungkan tentang keadilan dan keseimbangan.

"Homeschooling", Kenapa Jadi Pilihan?


  • Penulis : Andi Sulastri
  • Selasa, 9 Agustus 2011 | 10:44 WIB
KOMPAS.comHomeschooling alias sekolah rumah kini menjadi salah satu alternatif bagi orangtua untuk pendidikan anaknya. Mereka tak menempatkan si anak di sekolah formal pada umumnya. Apakah mereka tidak takut kualitas pengetahuan yang diperoleh anak akan lebih rendah dibandingkan jika menyekolahkannya di sekolah formal? Tidak juga. Anak hasil homeschooling tidak berarti rendah secara kualitas.
Nah, berikut ini ada beberapa catatan soal nilai positif homeschooling yang dirangkum Kompas.com dari berbagai sumber. Siapa tahu bisa Anda jadikan pertimbangan sebelum memutuskan "menyekolahkan" anak Anda di rumah.
1. Perkembangan anak lebih pesat
Jika dibandingkan dengan sekolah-sekolah formal pada umumnya, homeschooling sesungguhnya merupakan program yang dapat membantu dalam perkembangan anak. Setiap anak memiliki tingkat penerimaan pengetahuan yang berbeda-beda. Namun, sekolah formal lebih cenderung untuk menyamakan semua kemampuan anak. Maka, tak jarang anak dengan daya tangkap lebih rendah harus berusaha keras dalam untuk mengatasi ketertinggalan dibandingkan dengan teman-temannya. Nah, dengan homeschooling ini, sang anak dapat belajar langsung dengan guru privat dan sesuatu yang menjadi ketidaktahuan anak akan dengan mudah diidentifikasi oleh guru karena berkomunikasi langsung.
2. Memiliki karakter yang lebih kuat
Anak dengan didikan langsung oleh orangtua akan memiliki kepekaan dan keterampilan sosial yang lebih tinggi. Hal ini dipengaruhi oleh intensitas pertemuan yang lebih sering. Selain itu, anak-anak biasanya akan merasa lebih percaya diri dan terbuka dengan segala keterbatasan pengetahuan yang dimiliki kepada pengajar atau orangtua.
3. Anak-anak akan dewasa dengan caranya sendiri
Homeschooling akan membantu anak Anda untuk menemukan tingkat kedewasaannya dan kapan ia menunjukkan kedewasaannya.
4. Anak-anak tidak perlu "stres"
Anak Anda tidak perlu takut lagi dengan kondisi ruang kelas yang ribut, gaduh, atau tekanan dari teman sebaya atau orang-orang sekitar. Anak Anda akan berinteraksi dengan nyaman di rumah
5. Mempererat kedekatan emosional
Komunikasi yang terjalin satu sama lain jelas akan memengaruhi hubungan emosional. Penelitian menunjukkan, dua faktor paling penting dalam keberhasilan pendidikan secara keseluruhan adalah pengaruh positif rumah dan keterlibatan orangtua. Dan, homeschooling menyiapkan keduanya.
6. Mengajarkan anak untuk berpikir independen
Homescooling
juga mengajak anak untuk berpikir secara mandiri. Guru privat yang terlibat dalam peningkatan kemampuan anak secara akademik hanya membantu mengarahkan. Anak yang akan menentukan sendiri sejauh mana ia mampu berpikir.
Jika Anda juga ingin melibatkan guru dari luar untuk proses pembelajaran di rumah, ada baiknya mempertimbangkan hal-hal berikut sebelum memilih guru privat:
a. Guru yang menjadi pendidik haruslah bersertifikat. Mintalah kepada sang guru untuk memperlihatkan sertifikat, baik sertifikat yang berstandar sebagai guru maupun sertifikat khusus guru privat.

b. Minta kepada guru agar menyampaikan pengajarannya lebih kurang 45 menit untuk satu mata pelajaran atau setarakan dengan jadwal sekolahnya.
Editor : Inggried

Tips Menjadi Pengajar yang Menyenangkan


  • Penulis : Andi Sulastri
  • Selasa, 19 Juli 2011 | 09:40 WIB
KOMPAS.com - Dapatkah Anda membayangkan, apa yang terjadi jika tak tercipta suasana menyenangkan dalam proses belajar mengajar? Ya, siswa akan bosan dan tujuan dari penanaman ilmu oleh pengajar tak akan tercapai. Bagaimana menciptakan suasana belajar yang menyenangkan? Beberapa tips ini mungkin bisa menjadi panduan.
Salah satu hal yang harus dikedepankan adalah menyertakan partisipasi siswa di dalam kelas. Selain untuk membangun komunikasi dengan siswa, pengajar juga dapat mengetahui apa yang menjadi kebutuhan bagi para siswa. Jika situasi ini tak terbangun, bisa jadi siswa akan merasa canggung berbicara dengan guru dan komunikasi tidak akan berjalan baik. Akibatnya, pengajar juga akan mengalami kesulitan untuk mengetahui apa yang menjadi keinginan siswa.
Ciptakan iklim yang nyaman buat anak didik Anda
Iklim yang nyaman akan menghilangkan kecanggungan siswa, baik sesama guru maupun antar siswa sendiri. Hal ini juga bisa mendorong siswa untuk mengajukan pertanyaan, sehingga komunikasi antara pendidik dan anak didik dapat terbangun. Sebagai pengajar, Anda dapat menjelaskan kepada siswa bahwa tidak akan ada siswa lain yang akan mengejak ketika ia bertanya. Beri motivasi kepada siswa bahwa dengan bertanya,  akan memudahkannya untuk lebih mengetahui tentang sesuatu hal daripada hanya diam mendengarkan.

Dengarkan dengan serius setiap komentar atau pertanyaan yang diajukan oleh siswa Anda.

Jika siswa Anda mengajukan pertanyaan, sebisa mungkin  fokus dan memperhatikannya. Meski sederhana, hal ini akan menumbuhkan kepercayaan diri siswa karena ia merasa diperhatikan. Seringkali siswa merasa kurang percaya diri sehingga enggan untuk memberikan kontribusi di dalam kelas. Nah, tugas Anda sebagai pengajar, membangun kepercayaan diri siswa dengan menunjukkan perhatian-perhatian saat siswa merasa sedang ingin didengarkan.
Jangan ragu memberikan pujian kepada siswa
Anda juga bisa mencoba dengan memuji setiap komentar yang diajukan oleh anak didik Anda. Misalnya, "Oh, itu ide yang sangat bagus" ,atau "Pertanyaan kamu bagus, itu tidak pernah saya pikirkan sebelumnya”.
Beri pertanyaan yang mudah dijawab
Jika hal diatas belum juga berhasil untuk mengajak siswa memberikan komentar atau pertanyaan, giliran Anda untuk mengajukan pertanyaan memancing yang bisa membuat anak didik Anda tidak lagi bungkam di dalam kelas. Pastikan pertanyaan Anda mampu dijawab oleh siswa, sehingga saat menjawab secara tidak langsung melatih siswa untuk berbicara.
Saat siswa sudah mulai merespon, beri senyum kepada siswa yang sudah berkomentar. Hal ini akan mengurangi rasa canggung yang biasa ia perlihatkan.

Biarkan siswa mengetahui pelajaran sebelum kelas dimulai

Minta agar para siswa mempelajari bahan yang nantinya akan Anda tanyakan. Sehingga, ia akan mempersiapkannya terlebih dulu. Jika saat anda bertanya dan para siswa tidak merespon, ubah format pertanyaan anda yang hanya membutuhkan jawaban "ya" atau "tidak".
Controlling
Kontrol para siswa dengan alat kontrol yang Anda miiliki. Gunanya adalah untuk mengetahui seberapa banyak siswa yang biasanya berpartisipasi dalam kelas. Jika Anda menemukan beberapa siswa yang tingkat partisipasinya dalam kelas sangat kurang, maka ajak ia berkomunikasi secaraa pribadi. Mungkin dengan begitu ia akan merasa percaya diri. Selain itu, jika yang Anda temukan hanyalah permasalahan kurang percaya yang menjadikannya diam selama kelas berlangsung, maka tugas Anda selanjutnya adalah memberi ia tugas yang bisa membantunya untuk berkomunikasi. Misalnya, tugas berpidato dalam kelas.
Selamat mencoba!!
*diolah dari berbagai sumber
Editor : Inggried

Masih Grogi Hadapi Wawancara Beasiswa?


  • Penulis :Andi Sulastri
  • Senin, 22 Agustus 2011 | 10:38 WIB
KOMPAS.com - Tahap wawancara biasanya menjadi tahap akhir dari sejumlah proses yang dilalui dalam seleksi beasiswa. Tak sedikit yang gagal di tahap ini. Masih grogi menghadapi wawancara beasiswa? Dengan persiapan matang, Anda pasti akan lebih siap!
Langkah pertama yang harus dilakukan adalah, mempersiapkan segala sesuatu dengan baik. Tak hanya pengetahuan dan persiapan jawaban, tetapi juga hal-hal teknis yang kadang terlupa.
Pastikan Anda sudah tahu tempat wawancara
Beberapa hari sebelum wawancara, ada baiknya Anda sudah mengetahui lokasinya. Hal ini berguna bagi Anda untuk beradaptasi dengan kondisi tempat Anda akan diwawancara. Adaptasi sangat perlu untuk kebutuhan psikologi Anda.
Gunakan pakaian formal
Cara Anda berpakaian juga akan memberikan kesan tersendiri bagi pewawancara. Oleh karena itu, gunakanlah pakaian formal yang membuat Anda akan terlihat rapi. Hal ini juga menunjukkan keseriusan dan kepercayaan diri Anda saat menghadapi wawancara.
Persiapkan diri dengan melihat pertanyaan-pertanyaan umum
Mempersiapkan diri untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan dari para juri merupakan salah satu tips yang bisa Anda tempuh untuk menghindari grogi saat wawancara. Ada baiknya juga Anda berlatih bersama rekan untuk mengantisipasi semua kemungkinan pertanyaan yang akan dilontarkan pewawancara, sehingga pertanyaan apa pun yang diajukan dapat dijawab dengan memuaskan.
Jangan datang mepet waktu!
Usahakan untuk tiba sepuluh menit lebih awal dari waktu yang dijadwalkan. Jika terpaksa terlambat karena ada gangguan di perjalanan, segera beritahu pewawancara. Namun,  usahakan jangan terlambat. Hal ini bisa membuyarkan konsentrasi sehingga akan berefek pada jawaban-jawaban yang Anda lontarkan. Sangat banyak pewawancara langsung menganggap gagal ketika Anda terlambat karena melihat bahwa Anda tak mampu disiplin.

Persiapkan semua kelengkapan administrasi

Sebelum berangkat ke tempat wawancara, cek kembali semua perlengkapan Anda. Pastikan tak ada yang tertinggal. Barang-barang administratif ini yang biasanya diperlukan saat pewawancara menanyai Anda.
Oya, satu hal yang tak kalah penting namun  masih dianggap remeh oleh kebanyakan orang adalah mengingat nama pewawancara. Hal ini jangan Anda lupakan. Pewawancara akan merasa diperhatikan saat Anda mulai tahu dan hafal nama-nama pewawancara.
Tunjukkan rasa percaya diri Anda
Perlihatkan kepada pewawancara bahwa Anda betul-betul berkompeten untuk memperoleh beasiswa tersebut. Namun, bukan berarti Anda menunjukkan sikap arogan dan sombong dihadapan mereka. Banyak calon penerima beasiswa yang gagal saat wawancara lantaran terkesan sombong dan takabur saat menjawab pertanyaan pewawancara.
Jelaskan secara rinci jawaban demi jawaban
Anda juga perlu memperhatikan jawaban demi jawaban yang Anda sampaikan kepada pewawancara. Jika Anda memberikan jawaban yang ‘nyeleneh’ dan ngawur, akan menjadi penialain tersendiri bagi pewawancara. Memberikan jawaban yang rinci dan tepat tak ada salahnya. Namun, jika Anda sudah tak mampu menjawab, tunjukkan kepada pewawancara bahwa Anda kurang mengetahui mengenai hal yang ditanyakan. Sebisa mungkin hindari sikap ‘sok tahu’ dalam wawancara.
Penting juga untuk Anda ketahui bahwa jawaban-jawaban yang Anda keluarkan biasanya akan memunculkan pertanyaan baru bagi pewawancara. Jadi berhati-hati dalam menjawab perlu Anda perhatikan.
Persiapkan mental
Penting juga untuk Anda ketahui bahwa terkadang pewawancara sengaja menanyakan hal-hal yang sifatnya tidak begitu penting. Hal ini dilakukan guna menguji mental Anda. Pertanyaan-pertanyaan yang tidak masuk akal pun dilontarkan. Tak jarang si pewawancara memperlihatkan aksi-aksi diluar dugaan Anda. Misalnya, membiarkan Anda berdiam selama 5-10 menit tanpa mengajukan pertanyaan apa pun atau bisa saja ia terlihat asyik membaca koran dengan membiarkan Anda berdiam diri.
Jangan lupa ucapkan "terima kasih"
Usai wawancara, jangan lupa mengucapkan terima kasih kepada pewawancara. Hal ini berguna untuk memperlihatkan bahwa Anda menghargai mereka.
Editor : Inggried Dwi Wedhaswary

Bagaimana Menjadi Lulusan yang "Dicari"?

Penulis :Andi Sulastri
Jumat, 29 Juli 2011 | 10:27 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Kompetisi di dunia kerja semakin ketat. Gelar sarjana tak menjamin lulusan universitas bisa mendapatkan pekerjaan dengan gampang. Ketua Jurusan Teknik Industri Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya Sri Gunarni mengatakan, gelar sarjana, ijazah, tak cukup untuk jadi ukuran untuk sukses mendapatkan pekerjaan. Ia berpendapat, soft skill juga penting dalam pencarian kerja. Soft skill yang dimaksud di antaranya jiwa kepemimpinan dan sikap tanggung jawab."Untuk itu, saat menginjakkan kaki di instansi pendidikan mana pun sangat dibutuhkan pendalaman soft skill," kata Sri di Jakarta, Kamis (28/7/2011).
Selama ini, berdasarkan analisis Kementerian Pendidikan Nasional, banyaknya lulusan universitas yang masih menjadi pengangguran karena secara kualitas mereka tidak memenuhi syarat. Akibatnya, terjadi kesenjangan antara pencari kerja dan peluang lapangan kerja.
Sri, yang juga Staf Ahli Khusus Bidang Penyelarasan Kementerian Pendidikan Nasional, mengungkapkan, kementerian saat ini tengah menggalakkan program "Penyelarasan Dunia Pendidikan dan Dunia Kerja". Program ini merupakan upaya untuk menyinkronkan pendidikan nasional dengan kebutuhan kerja sehingga terjadi keselarasan dalam pelaksanaannya.
Melalui program ini, akan dilakukan kajian mengenai kompetensi yang dimiliki oleh masing-masing daerah dan akan dijadikan kerangka acuan dalam sistem pendidikan. Hal tersebut bertujuan demi mendapatkan lulusan yang siap pakai dan bisa bersaing di dunia kerja.