Thursday, June 27, 2013

Jika Miskin adalah Obat



Makassar, 19 Juni 2013
by google
                Sore ini aku tak menghabiskan waktu banyak di luar, hampir 24 jam aku hanya berada di dalam kamar. Sembari merapikan kamar yang sejak pagi tadi berantakan oleh bungkusan makanan, aku tak lupa menyalakan televisi yang kupasang tepat di depan kasur tidurku. Kuperhatikan dengan saksama sebuah stasiun TV yang menayangkan program “Orang Pinggiran”.
Program tersebut menampilan seorang bocah yang kini duduk di kelas V SD. Seketika melihat bocah tersebut, tak ada yang berbeda dari anak-anak seusianya, kecuali pakaian batik yang ia gunakan. Siapa yang menyangka jika batik yang digunakan Afrizal adalah batik yang sama yang digunakannya sejak kelas II SD, hampir empat tahun sudah anak bungsu ini menggunakan batik sekolahnya. Tidak salah, jika pakaian bercorak biru itu terlihat kecil pada tubuh yang tentu saja terus berkembang.
Tidak hanya pakaian yang menjadi objek penglihatan ketika melihat anak bungu dari dua bersaudara ini, sepatu dan tas sekolahnya juga begitu memprihatinkan. Bagian depan sepatunya itu terlihat sobekan yang tidak kecil, ditambah goresan jahitan tangan di pinggiran kiri dan kanan sepatu. Tidak hanya itu, tas yang  digunakannya tiap hari juga menarik perhatian, bukan karena corak dan warnanya yang memukau, melainkan tambalan tambalan kain yang menempel di beberapa sudut tas.
Kehidupan Afrizal sangat menyedihkan, namun Ia hidup bukan tanpa orang tua atau terlahir dari keluarga yang lepas tanggung jawab dan membiarkan Afrizal hidup sebatang kara. Tapi, kedua orang tua Afrizal juga kini sedang berjuang keras melawan pahitnya kemiskinan. Ayah Afrizal adalah seorang pria yang bertanggung jawab, hari harinya hampir dihabiskan di kebun tetangganya untuk mencari bambu yang ia gunakan untuk membuat keranjang yang lalu dijualnya demi memenuhi kebutuhan hidup Afrizal dan istrinya.
Meski mengalami keterbatasan fisik, tak mengurangi semangat sang ayah untuk terus bekerja di usianya kini  yang tak lagi muda. Begitupun dengan sang ibu yang mengisi hari-harinya di kebun cabe milik tetangganya. Jika masa panen tiba, ia diajak untuk membantu pemilik kebun memanen hasi kebun, dari sinilah ia kemudian diberi upah kerja. Jika beruntung, tak jarang pemilik kebun atau tetangga rumah memberikan sedikit jagung yang kemudian dijadikan makanan pengganti nasi. Mengapa? Alasannya jelas, harga beras sulit dijangkau oleh kantong rakyat sekelas ibu Afrizal.
Afrizal hanyalah salah satu dari sekian banyaknya anak yang harus merelakan masa kecilnya untuk mengais rezeki agar tetap bertahan hidup. Lantas, bagaimana dengan kita hari ini? Tak sedikit dari kita, bahkan akupun seperti itu, banyak menghabiskan waktu untuk mengeluh karena kekurangan banyak hal. Sangat jarang aku mengucap syukur dengan apa yang kumiliki saat ini. Padahal, di luar sana masih banyak Afrizal lainnya yang untuk makan saja susah, tapi tetap mampu mensyukuri, nikmat apapun yang Tuhan beri. Tapi, mengapa kita begitu sangat serakah? Ingin ini, itu dan sana.

Sunday, June 2, 2013

Ketika “Islam” Menjadi Topeng

by google


Makassar 2 Juni 2013

                Perlahan sore beranjak dari peraduan, mulai digantikan dengan senja yang lahir dari kebangkitan malam. Di dalam ruangan yang tak lebih luas dari kamar mewah, aku duduk bersila memandang tajam ke arah layar kaca yang berukuran 14 inci. Gambar yang bergerak gerak dilengkapi audio yang mulai kedengaran nyaring menambah sempurnanya soreku hari ini.
                Jam di telepon genggamku menunjukkan 18.17 wita ketika aku memperhatikan pemberitaan yang disajikan salah satu stasiun televisi. Ini bukan gosip tentang Asyanti dan Anang, atau cerita tentang Eyang Subur versus Adi Bing Slamet yang beberapa minggu terakhir marak diberitakan. Tapi, ini mengenai nasib bangsa yang sebentar lagi akan menemui masa kehancurannya.
                Bagaimana tidak? Seorang politisi dari Partai islam terang-terangan terangkap basah membagi bagikan uang korupsi kepada beberapa perempuan. Padahal, Partai Islam yang disangka memiliki kader yang paham tentang nilai nilai luhur Islam, yang khatam mengenai moralitas ummat, malah kadernya boleh dikata tidak mempraktekkan nilai luhur itu, apalagi tentang moral.
                Beberapa hal yang mungkin menjadi PR bagi bangsa. Pertama, Agama bukan menjadi identitas yang akan membedakan antara manusia keji dan manusia berbudi pekerti. Sering kali kita menemukan judgement dari kebanyakan orang, bahwa semakin baik agama seseorang maka semaikn baik pula akhlaknya. Yang menjadi catatan di sini adalah “semakin baik agama”, lalu dengan cara apa kita ingin menilai baiknya agama seseorang?
                Pertanyaan ini sering kali mengantarkan kita kepada penilai yang sangat empirik. Katanya, orang  yang sholatnya rutin lima kali sehari, puasa penuh di Bulan Ramadhan dan menyantuni kaum fakir adalah tolak ukur untuk menghukumi seseorang dengan predikat “agama yang baik”. Lantas, apa jadinya ketika orang yang kita tuduhkan memiliki agama yang baik itu hanya menampilkan hal yang utopis, memperlihatkan kepura-puraan? Matilah kita, diperbudak oleh kebodohan yang dibodoh-bodohkan.
                Intinya, penilaian empirik bukanlah menjadi ukuran untuk menilai seseorang karena Islam bukanlah Agama yang hadir dengan keimanan yang empirik.
                Kedua,label Islam tidak serta merta membuat kita jauh percaya kepada partai atau komunitas yang menjadikan islam sebagai objek yang dipasang pada sebuah nama komunitas tersebut. Apa jadinya, ketika nama Islam hanya dijadikan sebagai pancingan untuk mengajak banyak orang agar bergabung ke dalam sebuah komunitas tersebut? Lagi-lagi, jangan terkeco dengan label Islam, telusuri lebih mendalam dan cari tahu apa dan siapa komunitas tersebut.
                Ketiga, yang tak kalah pentingnya adalah berpengetahuan. Dengan pengetahuan kita bisa membedakan mana yang pantas mendapatkan predikat islam dan mana yang mendekati atau masih jauh dari kepantasan. 

Mengapa Islam?


by google

Dengan peluh dan keringat kubawa lipatan lipatan kertas yang kutaruh dalam sebuah map merah. Berpindah dari satu perusahaan ke perusahaan lain, tak menghasilkan apa-apa, kecuali debu yang mulai menebal di wajah yang dulunya berwarna kuning langsat sekarang mulai menghitam, sehitam impianku yang mulai kukubur dalam dalam. Berkelana dengan motor butut peninggalan ayahaku yang ia peroleh dengan menjual sawah warisan nenek menjadi kebiasaanku selama setahun penuh.
                Hampir setahun sudah aku memeroleh gelar sarjana, tapi tak satupun juga perusahaan yang ingin menerima lulusan universitas swasta sepertiku ini. Berbagai macam cara telah kucoba agar diterima di sebuah perusahaan, mulai dari memohon ke kerabat dan membiarkan diriku dihina, tapi usaha itu tak juga membuahkan hasil.
                Bahkan, suatu waktu keinginan untuk mati saja pernah kucoba. Di dalam kamar kost aku terbaring tak berdaya, hanya keluh dan hujatan yang keluar dari mulutku kala itu. Ketika pagi aku berangkat menuju Jalan Sepakat dengan motor butut yang suaranya mulai bising dan sesekali menarik perhatian pak polisi. Dengan modal sarjana dan map merah yang senantiasa menemaniku, aku masuk ke sebuah perusahaan swasta yang katanya sedang mencari pegawai.
                Aku melihat aktivitas yang sibuk, puluhan orang lalu lalang ke sana ke mari, ada yang berjalan sembil berbicara dengan telepon ditaruhnya di telinga, ada juga yang duduk sembari bercakap cakap dengan kawannya. “Siang pak, ada yang bisa saya bantu?” tanya seorang gadis yang mengenakan pakaian rapi dan rok di atas lutut. Dengan sigap kujawab pertanyaannya tadi, “maaf mba’, di sini sedang buka lowongan kerja yah?” pertanyaan yang hampir puluhan kali kutanyakan kepada resepsionis perusahaan.
                “Iyya pak, boleh saya liat riwayat hidupnya?” tanyanya lagi. Ucap syukur tak henti-hentinya kulantunkan dalam hati. “kapan yah aku mulai masuk kantor? Mungkin saja besok atau lusa?” aku mulai berangan-angan. “Maaf pak, kami tak menerima pegawai muslim di sini, trima kasih,” katanya setelah beberapa menit melihat lembaran kertas yang berisi riwayat hidup dan surat permohonan lamaran kerjaku.
                Aku tersentak ketika mendengar katanya tadi, tiba tiba aku seperti sedang terkena sengatan listrik. “Jaman sekarang masih ada yang tak menerima toleransi beragama? Kok bisa?” pertanyaan pertanyaan mulai muncul di benakku, tak habis pikir di era modern yang katanya menjunjung tinggi pluralitas seperti sekrang masih saja ada menerima perbedaan karena berlatar agama.
                Segera kutancapkan gas, kusetir motorku menuju arah jalan pulang. Sesampai di kamar yang ukurannya tak seluas kamar mewah di hotel hotel itu, kurebahkan badan di atas kasur yang terbuat dari gumpalan kapuk keras, kutatap langit langit kamar, kurenungkan kejadian yang baru saja kualami. “jika saja aku tak beragama islam, mungkin sebentar lagi aku menerima gaji bulanan, mengenakan seragam kantor tiap hari, dan bergabung bersama pegawai lain menikmati makan siang di kantin kantor,” keinginanku dalam hati.

                Ada apa dengan agama, mengapa agama seperti menjadi hal yang menghalangiku untuk mendapatkan pekerjaan layak. Seketika aku memikirkan di masa kepresidenan Gus Dur yang semua orang tak perlu khawatir lantaran perbedaan agama. Gus dur adalah sosok yang dikenal sebagai penyelamat pluralitas di Indonesia. Pikiranku akhirnya mengantarakanku pada keinginan tak beragama. “Perbedaan apa yang akan kudapatkan jika aku memilih tak beragama?” tanyaku dalam hati.
                Islam, agama yang kuyakini sejak aku masih berada dalam kandungan, agama yang mayoritas dipeluk oleh warga Indonesia. Islam, agama yang kitab sucinya adalah Al-Quran. Terima atau tidak, Islam adalah agama yang kuyakini karena kedua orang tuaku, Islam adalah pilihan yang tak membiarkanku memilih agama lain. Aku bahkan baru sadar jika ada agama lain selain islam, ketika duduk di bangku kelas enam SD.
                Hingga saat ini, aku tak pernah menanyakan kepada kedua orang tuaku, mengapa mereka memeluk Agama Islam, sekalipun aku bertanya aku takkan mungkin mendapatan jawaban yang tepat, pasalnya kakek dan nenekkupun juga memeluk agam islam. Aku terus saja melakukan ritual dan kebiasaan dalam Islam tanpa pernah menanyakan mengapa aku melakukan itu.
                 Untuk apa aku sholat, berpuasa di Bulan Ramadhan, dan sampailah aku dipertanyaan yang paling membuatku tak mampu lagi berkutik, siapa itu Tuhan? Pertanyaan pertanyaan ini tak pernah kutanyakan ketika masih berada di bangku sekolah.
                Lamunanku itu tiba tiba dihentikan dengan suara adzan, aku bergegas menuju masjid, kuraih segera Al-Qur’an dan menentengnya ke arah masjid, tak perlu berjalan jauh, aku akhirnya tiba di masjid. Satu persatu orang masuk, dan tentu saja mereka mengajakku untuk menyegerakan diri agar bergabung untuk sholat. Tapi tidak, kali ini aku tidak bermaksud untuk ikut sholat berjama’ah. Ketika beberapa shaff terlihat secara berjama’ah melakukan gerakan yang sama, aku tetap saja sibuk dengan kitab yang tiap lembaran-lebaran kubolak-balik.
                Setelah sholat, satu persatu keluar dari masjid meski dengan tatapan aneh mereka kepadaku, aku terus saja meneruskan aktivitas. Kuperhatikan ke dalam masjid, tak ada seorangpun kecuali imam masjid. Segera kuhampiri beliau dan tanpa basa basi aku mulai menanyakan beberapa hal.
                “Pak ustad, maaf mengganggu, saya ingin menanyakan beberapa hal,” sahutku. “silahkan,” katanya sembari menawarkan senyuman. “Pak, Tuhan berada di arah kiblat yah?” pak ustad yang tadinya hanya senyum, tiba tiba tampil dengan raut wajah keheranan, “Ada apa kamu ini nak?” tanyanya dengan nada kaget, “Jawab saja pak!” pintaku.
                Lalu, ia segera mengambil Al-Qur’an yang tadinya kupegang, terlihat ia sibuk mencari-cari, membuka halaman demi halaman, beberapa menit kemudian. “Nah, ini dia,!!!” tangkasnya. “Coba perhatikan ayat ini, nak. Surat Thaahaa ayat 5 dan surat Al A’raaf ayat 54, di sini jelas-jelas membuktikan bahwa Tuhan berada di atas Arsy, jelaskan keberadaan Tuhan?” lengkapnya sambil menyodorkan kembali Al-Qur’an yang baru saja dipegangnya.
                Arsy ituberada di mana?”, tanyaku lagi.  “Arsy itu berada di atas langit,” jawabnya tegas. “kalau Arsy berada di langit, mengapa sholatnya tak menghadap ke langit saja?”, “Islam itu mudah, maka jangan dipersulit,” jawabnya. “”kalau begitu tidak usah sholat, tanpa sholat bukannya menjadi Islam malah tambah mudah?” pertanyaan itu berlalu begitu saja ketika ia pergi tanpa permisi dan meninggalakanku bersama kebingunan yang kuciptakan dari jawaban-jawaban yang kudapatkan.