 |
| by google |
Dengan peluh
dan keringat kubawa lipatan lipatan kertas yang kutaruh dalam sebuah map merah.
Berpindah dari satu perusahaan ke perusahaan lain, tak menghasilkan apa-apa,
kecuali debu yang mulai menebal di wajah yang dulunya berwarna kuning langsat
sekarang mulai menghitam, sehitam impianku yang mulai kukubur dalam dalam. Berkelana
dengan motor butut peninggalan ayahaku yang ia peroleh dengan menjual sawah
warisan nenek menjadi kebiasaanku selama setahun penuh.
Hampir
setahun sudah aku memeroleh gelar sarjana, tapi tak satupun juga perusahaan
yang ingin menerima lulusan universitas swasta sepertiku ini. Berbagai macam
cara telah kucoba agar diterima di sebuah perusahaan, mulai dari memohon ke
kerabat dan membiarkan diriku dihina, tapi usaha itu tak juga membuahkan hasil.
Bahkan,
suatu waktu keinginan untuk mati saja pernah kucoba. Di dalam kamar kost aku terbaring tak berdaya, hanya
keluh dan hujatan yang keluar dari mulutku kala itu. Ketika pagi aku berangkat
menuju Jalan Sepakat dengan motor butut yang suaranya mulai bising dan sesekali
menarik perhatian pak polisi. Dengan modal sarjana dan map merah yang
senantiasa menemaniku, aku masuk ke sebuah perusahaan swasta yang katanya
sedang mencari pegawai.
Aku
melihat aktivitas yang sibuk, puluhan orang lalu lalang ke sana ke mari, ada
yang berjalan sembil berbicara dengan telepon ditaruhnya di telinga, ada juga
yang duduk sembari bercakap cakap dengan kawannya. “Siang pak, ada yang bisa saya bantu?” tanya seorang gadis yang
mengenakan pakaian rapi dan rok di atas lutut. Dengan sigap kujawab
pertanyaannya tadi, “maaf mba’, di sini
sedang buka lowongan kerja yah?” pertanyaan yang hampir puluhan kali
kutanyakan kepada resepsionis perusahaan.
“Iyya pak, boleh saya liat riwayat
hidupnya?” tanyanya lagi. Ucap syukur tak henti-hentinya kulantunkan dalam
hati. “kapan yah aku mulai masuk kantor?
Mungkin saja besok atau lusa?” aku mulai berangan-angan. “Maaf pak, kami tak menerima pegawai muslim
di sini, trima kasih,” katanya setelah beberapa menit melihat lembaran
kertas yang berisi riwayat hidup dan surat permohonan lamaran kerjaku.
Aku
tersentak ketika mendengar katanya tadi, tiba tiba aku seperti sedang terkena
sengatan listrik. “Jaman sekarang masih
ada yang tak menerima toleransi beragama? Kok bisa?” pertanyaan pertanyaan
mulai muncul di benakku, tak habis pikir di era modern yang katanya menjunjung
tinggi pluralitas seperti sekrang masih saja ada menerima perbedaan karena
berlatar agama.
Segera
kutancapkan gas, kusetir motorku menuju arah jalan pulang. Sesampai di kamar
yang ukurannya tak seluas kamar mewah di hotel hotel itu, kurebahkan badan di
atas kasur yang terbuat dari gumpalan kapuk keras, kutatap langit langit kamar,
kurenungkan kejadian yang baru saja kualami. “jika saja aku tak beragama islam, mungkin sebentar lagi aku menerima
gaji bulanan, mengenakan seragam kantor tiap hari, dan bergabung bersama
pegawai lain menikmati makan siang di kantin kantor,” keinginanku dalam
hati.
Ada
apa dengan agama, mengapa agama seperti menjadi hal yang menghalangiku untuk
mendapatkan pekerjaan layak. Seketika aku memikirkan di masa kepresidenan Gus
Dur yang semua orang tak perlu khawatir lantaran perbedaan agama. Gus dur
adalah sosok yang dikenal sebagai penyelamat pluralitas di Indonesia. Pikiranku
akhirnya mengantarakanku pada keinginan tak beragama. “Perbedaan apa yang akan kudapatkan jika aku memilih tak beragama?”
tanyaku dalam hati.
Islam,
agama yang kuyakini sejak aku masih berada dalam kandungan, agama yang
mayoritas dipeluk oleh warga Indonesia. Islam, agama yang kitab sucinya adalah
Al-Quran. Terima atau tidak, Islam adalah agama yang kuyakini karena kedua
orang tuaku, Islam adalah pilihan yang tak membiarkanku memilih agama lain. Aku
bahkan baru sadar jika ada agama lain selain islam, ketika duduk di bangku
kelas enam SD.
Hingga
saat ini, aku tak pernah menanyakan kepada kedua orang tuaku, mengapa mereka
memeluk Agama Islam, sekalipun aku bertanya aku takkan mungkin mendapatan
jawaban yang tepat, pasalnya kakek dan nenekkupun juga memeluk agam islam. Aku
terus saja melakukan ritual dan kebiasaan dalam Islam tanpa pernah menanyakan
mengapa aku melakukan itu.
Untuk apa aku sholat, berpuasa di Bulan
Ramadhan, dan sampailah aku dipertanyaan yang paling membuatku tak mampu lagi
berkutik, siapa itu Tuhan? Pertanyaan pertanyaan ini tak pernah kutanyakan
ketika masih berada di bangku sekolah.
Lamunanku
itu tiba tiba dihentikan dengan suara adzan, aku bergegas menuju masjid, kuraih
segera Al-Qur’an dan menentengnya ke arah masjid, tak perlu berjalan jauh, aku
akhirnya tiba di masjid. Satu persatu orang masuk, dan tentu saja mereka
mengajakku untuk menyegerakan diri agar bergabung untuk sholat. Tapi tidak,
kali ini aku tidak bermaksud untuk ikut sholat berjama’ah. Ketika beberapa shaff
terlihat secara berjama’ah melakukan gerakan yang sama, aku tetap saja
sibuk dengan kitab yang tiap lembaran-lebaran kubolak-balik.
Setelah
sholat, satu persatu keluar dari masjid meski dengan tatapan aneh mereka
kepadaku, aku terus saja meneruskan aktivitas. Kuperhatikan ke dalam masjid,
tak ada seorangpun kecuali imam masjid. Segera kuhampiri beliau dan tanpa basa
basi aku mulai menanyakan beberapa hal.
“Pak ustad, maaf mengganggu, saya ingin
menanyakan beberapa hal,” sahutku. “silahkan,”
katanya sembari menawarkan senyuman. “Pak,
Tuhan berada di arah kiblat yah?” pak ustad yang tadinya hanya senyum, tiba
tiba tampil dengan raut wajah keheranan, “Ada
apa kamu ini nak?” tanyanya dengan nada kaget, “Jawab saja pak!” pintaku.
Lalu,
ia segera mengambil Al-Qur’an yang tadinya kupegang, terlihat ia sibuk
mencari-cari, membuka halaman demi halaman, beberapa menit kemudian. “Nah, ini dia,!!!” tangkasnya. “Coba perhatikan ayat ini, nak. Surat Thaahaa
ayat 5 dan surat Al A’raaf ayat 54, di sini jelas-jelas membuktikan bahwa Tuhan
berada di atas Arsy, jelaskan keberadaan Tuhan?” lengkapnya sambil
menyodorkan kembali Al-Qur’an yang baru saja dipegangnya.
“Arsy ituberada di mana?”, tanyaku lagi. “Arsy
itu berada di atas langit,” jawabnya tegas. “kalau Arsy berada di langit, mengapa sholatnya tak menghadap ke
langit saja?”, “Islam itu mudah, maka jangan dipersulit,” jawabnya. “”kalau begitu tidak usah sholat, tanpa
sholat bukannya menjadi Islam malah tambah mudah?” pertanyaan itu berlalu
begitu saja ketika ia pergi tanpa permisi dan meninggalakanku bersama
kebingunan yang kuciptakan dari jawaban-jawaban yang kudapatkan.