Wednesday, April 17, 2024

Menulis


Membaca esai esai Puthut EA yang ditulisnya dalam buku Makelar Politik : Kumpulan Bola Liar membuat saya ingin menjadi penulis. Tulisannya sederhana “saya pun bisa menulis hal hal yang sesederhana itu,” pikirku.

Benar saja, kemarin di awal Ramadan, di kantor tempatku bekerja mengadakan lomba menulis artikel, kuputuskan untuk ikut dan esaiku kubuat tepat di akhir deadline pengumpulan artikel. Selain tak punya cukup waktu untuk bisa mrnuntaskan artikel itu, saya juga agak sedikit memandang enteng, “pasti bisa juara 1, “ batinku. Esai itu kubuat setelah sholat shubuh di hari minggu tanggal 24 Maret kulanjutkan lagi di minggu malam setelah isya, sekitar jam 9 malam esaiku rampung dan kukirim melalui google drive yang diaiapkan panitia.

Pengumuman pemenang keluar tanggal 29 Maret 2024. Kulihat nama yang tertulis di Juara I, bukan namaku. Lalu, mataku perlahan turun melihat di bawah nama Juara I, tertulis Juara II dan lagi lagi di situ bukan namaku, aku terlalu menyepelekan. Kesempatan terakhir ada di paling bawah, Juara III Andi Sulastri, sedikit bahagia bercampur kesal ditambah kecewa. Tapi kucoba untuk realistis dan rasional, bagaimana mungkin tulisan yang diproduksi singkat dan effortless menjadi tulisan terbaik. Kutenangkan diriku, setidaknya ada namaku di deretan juara itu.

Yah, saya berani mengklaim memiliki skill menulis, mungkin karena sejak SMP atau SMA saya punya hobby baca buku, lalu ketika kuliah saya ikut bergabung ke dalam ekskul Wartawan Kampus yang mengharuskan saya untuk menulis secara periodik.

Kemarin, setelah membaca lagi tulisan Puthut saya menemukan diri saya sedang tenggelam di kedalaman kata, saya berbicara dalam hati seolah sedang menulis kata yang ada di kepala saya. Tapi sayangnya, saya sudah kadung mengantuk, tidak lama setelah itu saya sudah menjadi penulis dan menghasilkan banyak buku dalam mimpi saya.

Saturday, November 8, 2014

Lelaki Pemalas

Lihatlah, Ia mengayuhkan kaki dengan sangat malas
Sesekali tersendat oleh bebatuan nakal yang beserakan
Seperti dosanya, Ia tebar di mana saja
Keluhnya tak berkesudahan,
ditambah jidat yang diderasi oleh keringat karena seharian mengumpat
lalu itu, tengoklah ke kamarnya, tentu saja tak ada buku,
tapi, ada selimut dan seprai yang berbekas, jejak tidur siangnya
Sial, perempuan yang sering dimuntahkan gombalannya.

Perempuan

English Vinglish, sebuah film India yang diperankan oleh Saridevi. Saya tak begitu mengetahui artis India ini. tapi, sewaktu kecil, ketika film-film India mulai meramaikan layar kaca Indonesia, tengila saya suka diramaikan dengan nama itu, mungkin saya pernah mellihatnya berperan pada film-film lawas India, tapi saya sudah melupakan wajahnya, tentunya dia perempuan yang manis.

Pada film berdurasi dua jam lebih  itu, maaf saya tak begitu memperhatikan waktu ketika menonton film itu, tapi saya jelas mengingat berapa lama saya menghabiskan waktu waktu di depan layar laptop. Saya lanjutkan lagi, sebelum saya benar-benar larut dalam cerita yang tak begitu penting untuk saya sampaikan.
Film itu, menceritakan tentang seorang ibu dua anak sekaligus istri dari suami kantoran. Namanya, Shashi, wajahnya manis dan air mukanya meneduhkan, nontonlah fimnya bila tak percaya. Ia perempuan kampung yang dinikahi oleh seorang lelaki kota, perempuan yang sehari-harinya mengenakan pakaian tradisional India ini tak begitu fasih berbahasa Inggris, kenapa bahasa Inggris? Yah, cerita filmnya seperti itu, seorang ibu yang tak tau berbahasa Inggris, lalu ke New York dan selama tiga minggu di sana, Ia mengikuti kelas bahasa Inggris.
Tapi, film ini tidak hanya menceritakan tentang ketidak mampuan dan usaha seorang perempuan agar fasih berbahasa Inggris. Pada film ini, hal yang paling ingin ditunjukkan adalah kondisi perempuan yang dipaksa menerima bahwa kodratnya hanya berada di dapur dan kasur.
Shashi, seorang perempuan yang juga berjualan Ladoo, makanan khas India yang berbentuk bulat dan berwarna kuning. Suatu waktu, shashi dan suami sedang asik makan di rumah, dalam sebuah pembicaraan suaminya tiba-tiba meminta shashi untuk berhenti berjualan Ladoo, Shashi jelas menolak, “aku hanya punya satu keinginan, dan kau ingin mnghentikannya juga,” begitu kata shashi kepada suaminya.
Jika semua lelaki sepeti suami shashi, apa yang akan terjadi pada generasi yang akan datang. Semua perempuan tak dibolehkan bersekolah, tak boleh mendapatkan kehormatan. Saya pernah membaca sebuah paragraf, mungkin ditulis oleh seorang wartawan yang mengutip perkataan Dia Sastro, aktris Indonesia. Katanya, “seorang perempuan, entah akan menjadi ibu rumah tangga atau berkarir berhak menjadi perempuan yang cerdas dan kelak melahirkan keturunan yang cerdas pula.”
Saya pikir, kalimat itu, sinkron dengan sebuah penelitian kesehatan yang pernah saya baca di sebuah media online. “kecerdasan seorang anak sebetulnya diwariskan dari ibunya, bukan ayahnya,” kalau tak salah, begitu redaksinya. Tentunya, hal ini menjadi pukulan semangat bagi para perempuan agar tak membatasi diri untuk belajar. Belajar tak hanya di dalam kelas dan membaca tak hanya lewat buku.

Bakti

Di sini, gigil dan kemarau suka bergantian. Seminggu sebelum aku dan agam membeli selimut, kami sama-sama membenci malam. Tapi, mungkin agam menikmati gigilnya malam di Bakti, sebab Ia suka ditelpon oleh kekasihnya di Palangkaraya.
Jika malam semakin larut, gigilnya juga akan semakin menggelayut. Aku sering dibangunkan oleh gigil itu. Sekarang, setelah aku dan agam membeli selimut, dinginnya mulai teratasi. Tapi, panas dan kemaraunya yang kadang membuat kami lebih digigil rindu ingin pulang.
Sejak penempatan, hingga hari ini, yah, sudah sebulan kami di Gorontalo. Aku tak pernah kelaparan di sini, tentu itu yang membuat kami betah. Tapi, orang di luar sana tentu juga masih banyak yang kelaparan.
***
Setiap pagi tetangga sebelah suka datang ke rumah kami, ia membawa anaknya yang kecil, paling bungu, Nisa namanya. Aku tak bisa memastikan umurnya, tapi sekarang Ia sekolah di Taman Kanak-Kanak. Selama di sini, mungkin cuma dua kali aku melihatnya berangkat ke sekolah. Selebihnya, Ia berada di rumah atau ikut bermain bersama temannya. Ingin sekali rasanya kuteriaki, “Ayo Nisa, ke sekolah sana.”
Orang tua Nisa, satu dari beberapa orang tua lainnya yang tak begitu memedulikan pendidikan. Jika berjalan ke dusun-dusun, aku sering menemukan orang tua yang menikahkan anaknya di umur 14 tahun dan setelah itu putus sekolah. Setelah menikah, ada yang ikut jadi petani, tukang ojek atau bentor dan buruh.    
Aku jadi ingat masa kecilku, ketika ibu akan memukul aku dan adik-adikku jika malas ke sekolah. Hingga suatu hari, saking malasnya ke sekolah, aku harus berpura-pura sakit perut dan menangis. Ibu tentu saja percaya. Ah, ibu, aku sangat merindukanmu.
Ibu, di sini lebih dingin dari kampung kita
Benar katamu dulu, aku harus belajar mencintai dapur
Tapi, ibu jaga kesehatan yah di sana, beristirahatlah sebentar, jika kamu mulai lelah di dapur
Jika pulang nanti, aku akan menemanimu memasak dan mengolah tepung bersama

Wednesday, December 11, 2013

Dor… Dor… Dor…


by google

Suara langit dipenuhi dengan dentuman senjata, awan berganti dengan gumpalan yang menghitam dan sesekali terdengar letusan kembang api. Langit menjadi ramai hari itu, di bawah langit orang-orang bak semut berkerumun yang berantakan karena setitik air. Hujan datang memenuhi kerinduannya kepada tanah-tanah kering karena pendosa.
Satu persatu datang silih berganti, berlarian sambil menutup hidung. Wajah-wajah mereka sengaja dibedaki odol, katanya agar mata tak perih terkena gas air mata. Saya berada di antara kerumunan semut, menjadi semut, lalu ikut berhamburan dengan semut-semut lain. Saya memanggil satu persatu semut untuk ikut bersembunyi di bawah lorong rumah semut yang baru saya kenal hari itu.
Tak ada yang bisa saya bicarakan kepada sore yang sebentar lagi berganti dengan malam, senja meninggalkan kami dalam rintik hujan. Seseorang datang menghampiri. Katanya, saya dan yang lain harus tetap bersembunyi di bawah rumah, “di luar berbahaya, polisi sedang mencari mahasiswa,” jelasnya dengan nafas yang terengah-engah.
Mulut mulai komat-kamit, batin tak keruan, dan tubuh menggigil oleh guyuran hujan yang sejak siang membasahi pakaian kami. Tak ada yang tersisa, kecuali ketakutan yang hinggap dan menambah deretan do’a yang kami panjatkan.
Seseorang tiba-tiba berlari ke arah kami, berhenti sejenak, lalu menuju pagar dan melompat, ia lantas menghilang di kegelapan malam. Seseorang yang lainnya datang dan tergesa-gesa, memegang pistol dan memakai topi. Ia meneriaki kami, lantang dan seolah-olah menyampaikan simbol bahwa ia adalah pihak kepolisian. Ia mencari orang yang lebih dulu datang lalu menghilang itu, tak ada yang mengeluarkan suara, hanya terdengar degupan jantung yang ikut tergesa-gesa. Ia yang menggenggam pistol di tangannya tadi pergi bersama kekesalannya, kami lalu menceritainya.
Di luar, jalan masih ramai, lampu kendaraan memenuhi malam itu, juga polisi dengan senapan panjang di tangan kanan, yang sudah berkali-kali menghantam siapa saja ditemuinya. Selama tujuh jam kami berada dalam ketakutan, kami menahan perut yang lapar, yang hanya di isi makan sejak pagi tadi, selamat, itu yang berharga bagi kami sekarang.
Kami lantas memberanikan diri keluar dari kolong rumah. Di luar tak seramai sore tadi, kata seseorang di antara kami, saya ikut bergegas dari tempat itu. Tiba-tiba saya mendapati motor yang sengaja dibuang ke parit oleh polisi. Untung saja, beberapa warga membantu mengangkat kendaraan roda dua itu, “itu motorku,” kata seseorang.
Motor itu sadelnya sengaja dicabik dengan sangkur, bannya ditusuk juga dengan sangkur, kacanya pecah dan  tubuh motor itu meninggalkan garis-garis. “Di sana masih ada dua motor yang dibuang oleh polisi,” kata seseorang.
Yang lain mulai geram saat polisi hanya tertawa sambil bersiul-siul menggoda perempuan yang bergantian lalu lalang di hadapannya. Seseorang meminta tolong kepada polisi, tapi si polisi tak mengindahkan, katanya mereka capek. Padahal, kata Negara, polisi bertujuan untuk mengayomi warganya.  Tapi, sudahlah, ini Indonesia. Jangan membayangkan pemerintah, polisi, tentara, birokrat akan mendengarkan suara rakyat. 

Tuesday, October 15, 2013

Benci


by google


lidahku terlalu rumit untuk mengucap cinta
pun, di dalam dada tak kutemukan apa itu cita
aku memutuskan untuk membenci
kutemukan damai bersama mereka yang ikut membenci

hahaha…
aku semakin riang karena aku tak sendiri
ada orang orang yang tak waras di sini bersamaku
ketidakwarasanku justru menjadi alasanku untuk membenci

di sana, aku hanya melihat kepura-puraan
shit…
akan kuludahi saja wajah mereka
lalu kuhina seenak hatiku

entah, sehebat apa mereka bersembunyi dari jurang nista
padahal, di sanalah mereka lahir
aku yakin, tak ada cinta di sisi mereka
berbeda denganku, berada dalam kungkungan pecinta kebencian

Kalah


by google

Aku terlalu lelah, pagiku kumulai dari atas ranjang dengan tubuh yang masih tertelungkup di atas kasur berbiru tua. Aku suka pagiku, di antara shubuh menjelang pagi, aku sengaja berdiam lama di atas kasur. Aku suka memperhatikan lekat-lekat dinding kamar, juga langit langit kamar yang bercat merah muda itu.
Warna merah mudanya selalu menelanku dalam kenangan empat tahun silam. Dinding itu dan jendelanya seperti menamparku dalam kisah-kisah yang selalu ingin kubuang jauh-jauh. Tak ada yang indah kala itu, aku
hanya berkawan sepi hingga usia memaksaku untuk memberontak dan melawan jiwaku.
Aku terbawa pada lorong buntu yang gelap. Hampir hampir aku tenggelam bersama mimpiku jika aku tak berani melakukan penolakan. Meski itu membuatku meraung-raung, membuat jiwaku seperti ingin menerkam siapa saja. Sungguh, aku menyesali sisa hidupku.
Perkenalanku dengan diriku membuat jiwaku didera sembilu, berkali kali hatiku sakit dan dibuat menangis. Jiwaku meronta, mulutku mengatup rapat-rapat rahasia yang kusimpan. Dan aku membiarkan.
Aku selalau terjebak oleh ketakutan yang belum tentu akan terjadi. Selalu ada jurang di ujung jalan keberanianku dan aku selalu jatuh di sana, sehingga aku tak ingin mengulangnya lagi. Keberanianku terkalahkan oleh keberingasan yang terus membuntutiku. Ada yang mengekoriku dari belakang, kusebut itu kekalahan.
Aku selalu yakin jika Tuhan hanya ingin aku kalah. Tak ada kemenangan yang pernah kucapai, kecuali terlahir dan mengalahkan ribuan sperma lainnya. Bahkan, untuk mengalahkan diriku sendiri aku tak mampu. “Sudahlah, menyerah saja!” ada yang selalu berbicara dari dalam dadaku. Tapi, aku selalu menuruti dan menirukannya.



Friday, October 4, 2013

Da Vinci dan Pengemis Makassar


by google
Baru saja saya membuka majalah nasional yang bertahun 2008. Sengaja kucari Catatan Pinggiran milik Goenawan Muhammad, saya menemukan “Da Vinci” di tulisannya pada Februari 2008 silam. Ada sepotong kalimat yang dikutinya dari Leonardo Da Vinci, saya ikut tertarik mengutipnya lagi.
“… manusia, yang dengan rasa ingin tahu yang riang berharap mendapatkan musim semi baru, musim panas baru, dan bulan-bulan baru selamanya… tak tahu bahwa dalam kerinduannya itulah terbawa kuman kematiannya sendiri.”
Leonardo menyebut manusia dalam catatannya dan menuliskannya sebagai “tauladan”. Tapi, itu di akhir abad ke-15. Kata “tauladan” tidak lagi ditemukan dalam kamus besar bahasa indonesia, ia terganti dengan “teladan”. Teladan dimaksudkan sebagai sosok atau sesuatu yang patut ditiru.  Manusia dikategorikan sebagai sesuatu yang patut ditiru.
saya lebih senang menyebut manusia dengan “MC”, mikrokosmos, sedangkan makrokosmos adalah alam semesta. Mikro berarti kecil, itu sebabnya manusia disebut MC karena ia salah satu bagian terkecil dari alam semesta. Dimana masih terdapat mikro-mikro lainnya, tumbuhan, hewan. MC beruntung, disebut sebagai teladan oleh pelukis Italia itu, sebuah penghukuman yang baik. Saya bisa memperkirakan betapa pantasnya MC ketika di akhir abad ke-15. Itu.
Beberapa waktu lalu, saya dan seorang teman baru saja menghadiri sebuah pertemuan. Selepas pertemuan itu, kami memutuskan pulang dan mampir sebentar di sebuah warung makan yang tak jauh dari kampus Unhas. Di sana, saya melihat seorang anak kecil yang mungkin usianya belum genap 10 tahun, pakaiannya kumal, wajahnya menghitam dilepoti debu jalanan. Ketika kami lewat di hadapannya, ia tak menengadahkan tangannya.
Begitupun seusai kami makan, ia tak menghampiri kami dan lekas meminta recehan. Ia masih berdiri rapi di depan warung dan sesekali memperhatikan deretan motor yang terparkir tanpa pola. “Oh, dia tukang parkir,” pikirku. Kami pun beranjak meninggalkan warung, saya lalu menemui si anak tadi, ia tersenyum dan berterima kasih ketika saya memberinya uang parkir.
Saya menyebut dia MC, meski anak seusianya tak layak beradu nasib dan melawan kerasnya arus kehidupan. Tapi, anak tadi baru saja memberi satu contoh yang patut ditiru. Berbeda dengan anak seusia dan senasib dengannya, yang biasa saya temukan sedang meminta atau mengutuk pengunjung yang tak memberinya recehan di tempat perbelanjaan atau warung-warung makan. Gambaran di atas hanya sebagian kecil dari rentetan hal tragis yang sering mewarnai kota Makassar. 
Lantas, apa kabar dengan Perda kota Makassar mengenai aturan penertiban serta pembinaan para gelandangan dan pengemis maupun anak jalanan? Jika saja aturan ini berjalan baik, tentunya kita tak akan lagi melihat ibu-ibu yang menggendong anak sembari menengadahkan tangan, atau anak kecil yang jahil menggoresi mobil-mobil pejabat lantaran tak diberi uang. Tapi, itu jika atuan ini berjalan. Kalau saja pejabat-pejabat negara mengedepankan kepentingan umum di atas urusan pribadi.
Saya tidak ingin menyebut pihak-pihak itu dengan MC. Mereka tak memberi teladan kepada khalayak Makassar sebagai pejabat negara yang patut ditiru. Kewajiban yang menjadi amanah rakyat tak dijalankan dengan baik. Padahal, seyogyanya pemerintah tak lepas tangan dengan kondisi yang melilit warga Makassar.
Saya membayangkan, kalau-kalau Leonardo Da Vinci masih hidup hingga sekarang dan menyaksikan warna-warni kota Makassar, tentunya ia takkan menyebut manusia sebagai mahluk “tauladan “, jika mayoritas warga enggan peduli dengan kondisi yang menimpa masyarakat.