 |
| by google |
Kemajuan suatu negeri tergantung
pada kemampuan generasi mudanya. Generasi muda yang mampu memaikan perannya
sebagai agen perubahan akan membawa negerinya mencapai puncak peradaban. Namun,
membangun peradaban melalui generasi muda bukanlah perkara mudah. Diperlukan
usaha serius dari semua pihak, termasuk perguruan tinggi. Untuk itu sejak 2010
lalu, Unhas berusaha memberikan pendidikan karakter kepada mahasiswa baru
melalui program Mengelola Hidup Merencanakan Masa depan (MHMMD). Berikut
wawancara Andi Sulastri dari
PK identitas dengan Marwad Daud, penggagas MHMMD.
1.
Apa sebenarnya
Pendidikan Karakter itu?
Pendidikan
karakter mengupayakan bahwa setiap peserta didik itu seharusnya memiliki
seperangkat nilai-nilai moral dan kepedulian yang tinggi. Tidak hanya itu,
saling menyadari diri sebagai manusia yang seharusnya mampu menjalin hubungan
yang baik kepada sesama manusia, juga kepada sang pencipta. Tapi kata kuncinya
sebenarnya adalah saling mengingatkan pentingnya kesadaran diri yang
mengajarkan
2.
Seberapa penting
pendidikan karakter ini untuk seorang mahasiswa?
Kalau
ditanya penting tidaknya, jelas bahwa yang kita lakukan saat ini adalah sesuatu
yang memiliki manfaat yang besar. Namun, sebaiknya pendidikan karakter ini sudah
ditanamkan kepada mahasiswa sejak masih usia dini agar karaker-karakter
menbangun dapat menjadi pembiasaan bagi mahasiswa.
Selain
itu agar mereka tidak hanya unggul dalam akademik saja, tapi juga dari segi
kemampuan yang berorientasi pada perencanaan masa depan. Sejauh yang saya
amati saat ini mereka memiliki integritas yang tinggi dan dalam waktu singkat
mereka telah selesai akan menjadi orang-orang hebat di bidangnya masing-masing,
juga memiliki integritas sebagai modal karakter.
3.
Bagaimana bentuk
pendidikan karakter yang sebaiknya diterapkan bagi mahasiswa di setiap kampus?
Banyak
cara, salah satu cara yang kita sampaikan kepada mahasiswa, bagaimana mereka
mampu mengubah pola pikir. Sehingga dalam waktu singkat mereka telah memiliki
perencanaan masa depan yang akan memberi banyak manfaat kepada masyarakat. Seperti
itulah yang kami sampaikan kepada mahasiswa. Kita berupaya untuk menanamkan
jiwa-jiwa sosial kepada mereka agar tidak terkesan apatis terhadap orang-orang
sekitar.
Dari
pola pikir yang berkembang dan kian matang kita berupaya agar itu tak goyah. Untuk
itulah perlu ada pembiasaan minimal dalam jangka waktu 40 hari dan selama itu
kita akan terus pantau. Salah satu hal yang penting dan patut menjadi
pembiasaan, bagaimana agar mereka taat beribadah dan berusaha mendisiplinkan
diri dalam hal kerohanian. Mungkin tidak banyak orang mengetahui hal ini, bahwa
dengan melakukan salat tepat waktu, dan sebisa mungkin meluangkan waktunya
beberapa menit saja untuk membaca kitab suci, secara tidak langsung kita
belajar manajemen waktu dan disiplin diri.
4.
Apa sebenarnya
yang membedakan pendidikan karakter dengan pendidikan pada umumnya yang biasa
diajarkan di sekolah-sekolah atau di kampus?
Di
sekolah kita diajarkan kompetensi teknis, misalnya ilmu yang disesuaikan dengan
konsentrasi bidangnya masing-masing. Nah
kalau pendidikan karakter ini lebih kita namakan sebagai ilmu hidup dan ini
menjadi alat bagi perencanaan hidup ke depannya. Bukan hanya sekadar ilmu tapi membutuhkan pelaksaan yang baik dan benar. Lakukanlah
sesuatu dengan memberi makna pada setiap yang kita kerjakan
5.
Kenapa
pendidikan karakter ini terkesan lamban?
Karena
Indonesia masih terbilang baru mengenai hal ini. Tahun 2010 lalu, kita
baru saja mengadakan pelantikan terkait adanya pendidikan karakter. Kita mungkin
baru saja mencontek dari negara tetangga yang sudah menjalankannya beberapa
tahun lalu. Namun bukan berarti kita tidak dapat mengungguli mereka dari segi
pendidikan.
6.
Bagaimana manfaat
pendidikan karakter ini bagi mahasiswa sendiri?
Sangat
bermanfaat, pendidikan karaketer ini mengajak kita untuk bekerja sama,
mengakrabkan diri dengan yang lain, dan menghindarkan kita untuk bertindak
hanya dengan Ke-aku-an. Pendidikan karakter ini mungkin hanya kedengarannya
biasa saja, namun manafaat yang kita peroleh sangatlah luar biasa. Dengan memiliki
karakter sebagai seorang yang akan peduli dengan lingkungan sekitar.
7.
Bagaimana respon
setiap kampus?
Alhamdulillah
sangat luar biasa, selain itu mahasiswa juga antusias dengan kegiatan ini.
Setelah bertemu dengan beberapa alumni, mereka mempertegas sendiri bahwa
pendidikan karakter ini sangat penting. Kita jauh lebih bisa memaknai arti
pentingnya hidup. Kita berjalan tidak hanya pada ranah perkuliahan bagi
mahasiswa di kampus, juga terkadang ada instansi pemerintah setempat meminta
untuk diadakannya kegiatan sosiaisasi, seperti BUMN.
Memiliki
peta hidup menjadi salah satu dari tujuan diadakannya kegiatan sosialisasi
pendidikan karakter. Mereka mampu menggali potensi yang mereka miliki, melihat
setiap peluang yang ada sebagai sesuatu yang memiliki manfaat tidak hanya bagi
diri sendiri namun juga bagi orang lain.
8.
Apa yang
mendasari perlunya pendidikan karakter ini?
Saya
belajar dari masa lalu, saya kan alumni
Unhas, pendidikan S1 di Unhas, tetapi saat lanjut S2 dan S3 di American University. Saya melihat banyak
perbedaan yang pada dasarnya sebenarnya mampu kita miliki. Orang di sana
betul-betul memanfaatkan waktu yang ada sekali pun hanya beberapa menit. Selalu
meluangkan waktunya untuk membaca. Bagaimana mereka selama delapan jam
mengikuti perkuliahan dan mereka memang fokus.
Membuat
kelompok belajar, terjun ke masyarakat, magang, kerja dan memang waktu itu
betul-betul terisi. Tidak adalagi waktu yang terbuang begitu saja. Tertib, jika
di Indonesia juga mampu mengaplikasikan ini maka akan makmur negara kita
sebenarnya. Kalau melihat kehidupan orang luar negeri atau negara tetangga dari
segi ilmu pengetahuan, mereka lebih beruntung.
Dengan
taat beribadah dan membaca kitab suci, secara tidak langsung mengajarkan kita
tentang disiplin waktu juga bagaimana menghargai setiap detik waktu itu.
Indonesia akan memimpin peradaban dan target kita adalah 2045. Indonesia yang
memiliki nilai-nilai agama yang bagus mematuhi dan menjalankan semua ibadah itu
baik. Merekalah yang nantinya akan memegang tampuk kepemimpinan yang tidak
hanya cerdas, tapi memiliki karakter yang berbasis kepada nilai-nilai agama dan
budaya
9.
Apa yang
diharapkan setalah adanya pendidikan karakter ini?
Mereka
mampu memaknai hidup dan melakukan yang terbaik dengan memiliki peta hidup dan
perencanaan masa depannya. Mereka juga punya cita-cita yang ingin dibangun di
atas pondasi hidup yang lebih kuat. Tidak semua orang bisa memperoleh
pendidikan karakter ini, maka dari itu bagikan dan sampaikan juga kepada
teman-teman dan saudara-saudara kita yang kurang beruntung dari segi ekonomi.
DATA DIRI
Nama
: Marwah Daud Ibrahim
Tempat
Tanggal Lahir : Soppeng, 8 November 1956
Pendidikan
: Sarjana Fakultas Ilmu Sosial Politik, Jurusan Komunikasi Universitas Hasanudin
(1981)
Master Komunikasi Internasional American University, Washington DC, Amerika
Serikat
(1982) Doktor Komunikasi Internasional American University, Washington DC, Amerika
Serikat (1989)