Friday, February 15, 2013

Memperkenalkan Cinta

by google
Kemarin, Baru Saja Kamu Terlihat Diam
Tiba tiba kamu tersenyum kepadaku
Mengajakku bicara dan ikut larut dalam pembicaraan panjang
Cukup lama kita seperti ini
Semakin hari kamu menunjukkan respon yang baik kepadaku
Dan sepertinya kamu menyukai segala hal tentangku
Walau terkadang kecanggungan antara kita masih ada
Mengingat dirimu sebagai seorang yang luar biasa
Dan aku, hanya seorang yang kecil yang sedang merangkak
Tapi, kamu terus mengajarku berjalan

Aku mulai belajar menepis kecanggungan itu
Melahirkan wilayah baru antara kamu dan aku, hanya kita berdua
Kian lama kita saling membuka diri
Kita tak lagi membicarakan dan memperkenalkan siapa kita
Kita sudah jauh menerawang masa depan
Walau rasanya baru kemarin kamu memperkenalkan diri
Mengenalkan kepadaku siapa kamu dan akupun sebaliknya

Namun, sesekali kamu memperlihatkan kebencian kepadaku
Dan aku tidak suka, aku mulai menangis ketika itu
Tapi, kamu malah geram, membentak dan sepertinya aku tak lagi mengenalimu
Ini bukan hanya sekali
Aku tak mampu berbuat apapun kala itu, kamu tak memberiku pilihan
Terisak isak aku menahan nafas, menyeka air mata sendiri
Berharap menemukan bahu tempatku bersandar
Ketika memuncak, aku tak lagi mampu menangis, hanya isakan nafas
Tiba tiba mataku membelalak, aku hanya bermimpi
Tidak ada tangisan dan kebahagiaan apapun
Tidak ada cerita antara kita, tidak ada sejarah yang akan kita ukir
Dan tidak ada dirimu juga, semua hanya utopis
Mimpi dan angan angan yang aku ciptakan sendiri

Makassar, 14 Februari 2013

Sunday, February 10, 2013

Politik Bukan Panggung Lawak…!



by google
Indonesia masih harus belajar dari negara tetangga untuk penyelesaian pembahasan agenda politik di DPR, khususnya permasalahan Pendidikan Kesehatan. Saat ini masih banyak daerah yang tidak mendapat perhatian serta penyebaran tenaga dokter yang tidak merata di Indonesia menjadi penyebab buruknya nilai kesehatan di negeri ini.  Berikut pendapat pelawak sekaligus politikus Drs Nurul Qomar Anggota DPR RI Komisi X saat diwawancara Andi Sulastri dari identitas di ruang Senat Universitas Hasanuddin.


Dunia lawak sangat berbeda dengan politik. Kenapa Anda memutuskan banting setir dan memasuki dunia politik?
Sebenarnya, kalau dibilang meninggalkan dunia lawak tidak juga karena sampai saat ini saya masih sering diundang di stasiun televisi sebagai pelawak, bukan sebagai legislator. Saya juga memilih untuk terjun ke dunia politik karena Fraksi Partai Demokrat menugaskan saya di Komisi X. Di sana saya bisa memberikan sumbangsih pemikiran untuk dunia pendidikan Indonesia. Mitra kerja kami adalah Kementerian Pendidikan Nasional, Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, Kementerian Pemuda dan Olahraga, dan Kementerian Perpustakaan Nasional. Jadi, mau tidak mau saya harus memahami.
Bagaimana Anda memadukan pekerjaan sebagai pelaku seni dan legislator?
Tidak selamanya seorang entertainer tidak paham persoalan yang ada di Indonesia. Bukan berarti kita harus tutup telinga terhadap permasalahan-permasalahan sosial seperti masalah kesehatan yang sedang dibahas sekarang ini, saya tentu akan membahasnya sesuai kapabilitas Saya sebagai anggota legislative. Pun berbeda ketika saya dipanggil oleh banyak kalangan untuk memberikan lawakan sebagai seorang penghibur. Pelawak seperti saya harusnya bisa menyampaikan lawakan dengan bahasa yang dipahami oleh penonton. Ini berarti kita harus menggunakan bahasa yang komunikatif dan dipahami penonton. Memang berat jika seorang pelawak yang juga legislator diundang melawak.
Soal Rancangan Undang-Undang Pendidikan Kedokteran yang sedang dibahas?
Rancangan Undang-Undang (RUU) Pendidikan Kedokteran ini sebenarnya masih hanya sebatas draft RUU dan masih dalam tahap pembahasan. Kita masih dalam tahapan meminta pandangan kepada seluruh pemangku kepentingan yang berkaitan dengan pendidikan kedokteran. Artinya draft RUU ini bisa kita teruskan menjadi Undang-Undang. Bisa juga hanya sebatas pembahasan saja. RUU ini pun ketika disahkan, pelaksananya diatur oleh peraturan pemerintah. Inilah sebenarnya yang menjadi perhatian kita agar tidak terlihat pincang, Oleh sebab itu, kami dari Komisi X datang untuk meminta masukan dan membahas mengenai draft RUU Pendidikan Kedokteran ini. Sejauh ini, saya melihat ada beberapa yang setuju, namun ada juga yang tidak setuju.
Apa yang melatarbelakangi RUU tersebut?
Kami melihat pada persoalan di lapangan ada beberapa daerah yang tidak mendapat perhatian untuk permasalahan kesehatan secara proporsional. Selain itu, tidak meratanya penyebaran tenaga dokter yang ada di Indonesia, itulah yang kemudian menjadi dasar bagi Anggota Komisi X bidang Pendidikan. Sehingga beberapa teman menyusun draft RUU ini, tapi ternyata faktanya sekarang RUU masih berada pada tataran pembahasan. Nantilah kita lihat apa RUU ini disetujui atau tidak. Namun kami juga tetap menerima masukan dari pemamngku kebijakan yang punya kepentingan dengan pendidikan kedokteran ini.
Bagaimana Anda melihat sistem pendidikan kedokteran yang ada di Indonesia dan perbedaannya dengan sistem kedokteran negara tetangga?
Kita masih perlu banyak belajar dari negara tetangga, seperti Singapura dan Malaysia. Jika dibandingkan dengan Indonesia kita masih jauh tertinggal di belakang. Kita seharusnya masih harus berpikir secara kreatif untuk meningkatkan kualitas pendidik. Tapi sekarang kita sudah berada dalam tahapan perbaikan sistem pendidikan kedokteran. Dengan adanya draft RUU Pendidikan Kedokteran menjadi bukti bagi Komisi X terhadap kepedulian dengan permasalahan sosial.
Lantas, apa yang menjadi masalah utamanya?
Tidak terfokus pada personal pendidik dokter, tapi kita sebenarnya terkendala pada kultur-kultur pemikiran masyarakat. Kultur yang berorientasi pada kesehatan masih memiliki paradigm-paradigma tradisional. Masih ada beberapa daerah yang enggan memanfaatkan fasilitas kesehatan yang disediakan oleh pemerintah. Ini menjadi tanggung jawab kita semua dengan melakukan kegiatan-kegiatan untuk menyosialisasikan pentingnya kesehatan bagi masyarakat.
Sejauh ini, apa saja yang telah dilakukan Komisi X untuk mengatasi permasalahan pndidikan?
Sesuai dengan fungsi kami di DPR RI sebagai legislasi, menyepakati anggaran dan pengawasan, UU Sistem Pendidikan Nasional, UU Guru dan Dosen, UU Sistem Kekeluargaaan Nasional, UU Kepariwisataan, UU Perpustakaan Nasional dan masih banyak lainnya. Saya kira ini adalah salah satu dari peran dari komisi yang memegang bidang pendidikan. Yang berkaitan dengan legislasi dan kita sepakati 20% anggaran diakomodsikan untuk pendidikan.
Bagaimana anda melihat sistem Pendidikan Kedokteran yang ada di Unhas sendiri?
Saya lihat, sebuah fakultas kedokteran dari sebuah universitas idealnya harus memiliki sebuah Rumah Sakit Pendidikan dan Unhas memiliki itu. Ini berarti FK Unhas sudah memenuhi kriteria sebagai universitas yang baik. Kami dari Komisi X memutuskan untuk kunjungan kesini guna meminta masukan dari pihak Unhas
Sejauh mana peran Pemerintah dalam dunia kedokteran?
Dengan adanya kementrian kesehatan menjadi bukti terhadap adanya tanggung jawab pemerintah. Negara kita Negara kepulauan yang menjadi kendala sehingga adanaya biaya kesehatan yang tinggi.

DATA DIRI

Nama : Drs H Nurul Qomar
Tempat Tanggal Lahir : Jakarta, 11 Maret 1960
Agama : Islam
Riwayat  Pendidikan: SD 1973
                                  SMP 1977
                                  SPG Negeri II Halimun
                                 FISIP UNIS (Jur.Adm Negara)
Riwayat Pekerjaan:
1.Pelawak
2.Guru dan Kepsek TK Yayasan Pendidikan Widuri Indah Jakbar 1982-1986
3.Penyiar dan Pengasuh Acara “Kuliah Subuh” Radio Suara Kejayaan Jaksel 1990- 1997

Indonesia Pimpin Peradaban tahun 2045



by google
            Kemajuan suatu negeri tergantung pada kemampuan generasi mudanya. Generasi muda yang mampu memaikan perannya sebagai agen perubahan akan membawa negerinya mencapai puncak peradaban. Namun, membangun peradaban melalui generasi muda bukanlah perkara mudah. Diperlukan usaha serius dari semua pihak, termasuk perguruan tinggi. Untuk itu sejak 2010 lalu, Unhas berusaha memberikan pendidikan karakter kepada mahasiswa baru melalui program Mengelola Hidup Merencanakan Masa depan (MHMMD). Berikut wawancara Andi Sulastri dari PK identitas dengan Marwad Daud, penggagas MHMMD.


1.        Apa sebenarnya Pendidikan Karakter itu?
Pendidikan karakter mengupayakan bahwa setiap peserta didik itu seharusnya memiliki seperangkat nilai-nilai moral dan kepedulian yang tinggi. Tidak hanya itu, saling menyadari diri sebagai manusia yang seharusnya mampu menjalin hubungan yang baik kepada sesama manusia, juga kepada sang pencipta. Tapi kata kuncinya sebenarnya adalah saling mengingatkan pentingnya kesadaran diri yang mengajarkan

2.        Seberapa penting pendidikan karakter ini untuk seorang mahasiswa?
Kalau ditanya penting tidaknya, jelas bahwa yang kita lakukan saat ini adalah sesuatu yang memiliki manfaat yang besar. Namun, sebaiknya pendidikan karakter ini sudah ditanamkan kepada mahasiswa sejak masih usia dini agar karaker-karakter menbangun dapat menjadi pembiasaan bagi mahasiswa.
Selain itu agar mereka tidak hanya unggul dalam akademik saja, tapi juga dari segi kemampuan yang berorientasi pada perencanaan masa depan.  Sejauh yang saya amati saat ini mereka memiliki integritas yang tinggi dan dalam waktu singkat mereka telah selesai akan menjadi orang-orang hebat di bidangnya masing-masing, juga memiliki integritas sebagai modal karakter.

3.        Bagaimana bentuk pendidikan karakter yang sebaiknya diterapkan bagi mahasiswa di setiap kampus?
Banyak cara, salah satu cara yang kita sampaikan kepada mahasiswa, bagaimana mereka mampu mengubah pola pikir. Sehingga dalam waktu singkat mereka telah memiliki perencanaan masa depan yang akan memberi banyak manfaat kepada masyarakat. Seperti itulah yang kami sampaikan kepada mahasiswa. Kita berupaya untuk menanamkan jiwa-jiwa sosial kepada mereka agar tidak terkesan apatis terhadap orang-orang sekitar.
Dari pola pikir yang berkembang dan kian matang kita berupaya agar itu tak goyah. Untuk itulah perlu ada pembiasaan minimal dalam jangka waktu 40 hari dan selama itu kita akan terus pantau. Salah satu hal yang penting dan patut menjadi pembiasaan, bagaimana agar mereka taat beribadah dan berusaha mendisiplinkan diri dalam hal kerohanian. Mungkin tidak banyak orang mengetahui hal ini, bahwa dengan melakukan salat tepat waktu, dan sebisa mungkin meluangkan waktunya beberapa menit saja untuk membaca kitab suci, secara tidak langsung kita belajar manajemen waktu dan disiplin diri.

4.        Apa sebenarnya yang membedakan pendidikan karakter dengan pendidikan pada umumnya yang biasa diajarkan di sekolah-sekolah atau di kampus?
Di sekolah kita diajarkan kompetensi teknis, misalnya ilmu yang disesuaikan dengan konsentrasi bidangnya masing-masing. Nah kalau pendidikan karakter ini lebih kita namakan sebagai ilmu hidup dan ini menjadi alat bagi perencanaan hidup ke depannya. Bukan hanya sekadar ilmu tapi  membutuhkan pelaksaan yang baik dan benar. Lakukanlah sesuatu dengan memberi makna pada setiap yang kita kerjakan

5.        Kenapa pendidikan karakter ini terkesan lamban?
Karena Indonesia masih terbilang  baru mengenai hal ini. Tahun 2010 lalu, kita baru saja mengadakan pelantikan terkait adanya pendidikan karakter. Kita mungkin baru saja mencontek dari negara tetangga yang sudah menjalankannya beberapa tahun lalu. Namun bukan berarti kita tidak dapat mengungguli mereka dari segi pendidikan.

6.        Bagaimana manfaat pendidikan karakter ini bagi mahasiswa sendiri?
Sangat bermanfaat, pendidikan karaketer ini mengajak kita untuk bekerja sama, mengakrabkan diri dengan yang lain, dan menghindarkan kita untuk bertindak hanya dengan Ke-aku-an. Pendidikan karakter ini mungkin hanya kedengarannya biasa saja, namun manafaat yang kita peroleh sangatlah luar biasa. Dengan memiliki karakter sebagai seorang yang akan peduli dengan lingkungan sekitar.

7.        Bagaimana respon setiap kampus?
Alhamdulillah sangat luar biasa, selain itu mahasiswa juga antusias dengan kegiatan ini. Setelah bertemu dengan beberapa alumni, mereka mempertegas sendiri bahwa pendidikan karakter ini sangat penting. Kita jauh lebih bisa memaknai arti pentingnya hidup. Kita berjalan tidak hanya pada ranah perkuliahan bagi mahasiswa di kampus, juga terkadang ada instansi pemerintah setempat meminta untuk diadakannya kegiatan sosiaisasi, seperti BUMN.
Memiliki peta hidup menjadi salah satu dari tujuan diadakannya kegiatan sosialisasi pendidikan karakter. Mereka mampu menggali potensi yang mereka miliki, melihat setiap peluang yang ada sebagai sesuatu yang memiliki manfaat tidak hanya bagi diri sendiri namun juga bagi orang lain.

8.        Apa yang mendasari perlunya pendidikan karakter ini?
Saya belajar dari masa lalu, saya kan alumni Unhas, pendidikan S1 di Unhas, tetapi saat lanjut S2 dan S3 di American University. Saya melihat banyak perbedaan yang pada dasarnya sebenarnya mampu kita miliki. Orang di sana betul-betul memanfaatkan waktu yang ada sekali pun hanya beberapa menit. Selalu meluangkan waktunya untuk membaca. Bagaimana mereka selama delapan jam mengikuti perkuliahan dan mereka memang fokus.
Membuat kelompok belajar, terjun ke masyarakat, magang, kerja dan memang waktu itu betul-betul terisi. Tidak adalagi waktu yang terbuang begitu saja. Tertib, jika di Indonesia juga mampu mengaplikasikan ini maka akan makmur negara kita sebenarnya. Kalau melihat kehidupan orang luar negeri atau negara tetangga dari segi ilmu pengetahuan, mereka lebih beruntung.
Dengan taat beribadah dan membaca kitab suci, secara tidak langsung mengajarkan kita tentang disiplin waktu juga bagaimana menghargai setiap detik waktu itu. Indonesia akan memimpin peradaban dan target kita adalah 2045. Indonesia yang memiliki nilai-nilai agama yang bagus mematuhi dan menjalankan semua ibadah itu baik. Merekalah yang nantinya akan memegang tampuk kepemimpinan yang tidak hanya cerdas, tapi memiliki karakter yang berbasis kepada nilai-nilai agama dan budaya
9.      Apa yang diharapkan setalah adanya pendidikan karakter ini?
Mereka mampu memaknai hidup dan melakukan yang terbaik dengan memiliki peta hidup dan perencanaan masa depannya. Mereka juga punya cita-cita yang ingin dibangun di atas pondasi hidup yang lebih kuat. Tidak semua orang bisa memperoleh pendidikan karakter ini, maka dari itu bagikan dan sampaikan juga kepada teman-teman dan saudara-saudara kita yang kurang beruntung dari segi ekonomi.

DATA DIRI
Nama : Marwah Daud Ibrahim
Tempat Tanggal Lahir : Soppeng, 8 November 1956
Pendidikan : Sarjana Fakultas Ilmu Sosial Politik, Jurusan Komunikasi Universitas Hasanudin
(1981) Master Komunikasi Internasional American University, Washington DC, Amerika
Serikat (1982) Doktor Komunikasi Internasional American University, Washington DC, Amerika Serikat (1989)