 |
| by google |
Baru
saja saya membuka majalah nasional yang bertahun 2008. Sengaja kucari Catatan
Pinggiran milik Goenawan Muhammad, saya menemukan “Da Vinci” di tulisannya pada
Februari 2008 silam. Ada sepotong kalimat yang dikutinya dari Leonardo Da
Vinci, saya ikut tertarik mengutipnya lagi.
“… manusia, yang
dengan rasa ingin tahu yang riang berharap mendapatkan musim semi baru, musim
panas baru, dan bulan-bulan baru selamanya… tak tahu bahwa dalam kerinduannya
itulah terbawa kuman kematiannya sendiri.”
Leonardo
menyebut manusia dalam catatannya dan menuliskannya sebagai “tauladan”. Tapi,
itu di akhir abad ke-15. Kata “tauladan” tidak lagi ditemukan dalam kamus besar
bahasa indonesia, ia terganti dengan “teladan”. Teladan dimaksudkan sebagai
sosok atau sesuatu yang patut ditiru.
Manusia dikategorikan sebagai sesuatu yang patut ditiru.
saya
lebih senang menyebut manusia dengan “MC”, mikrokosmos, sedangkan makrokosmos
adalah alam semesta. Mikro berarti kecil, itu sebabnya manusia disebut MC
karena ia salah satu bagian terkecil dari alam semesta. Dimana masih terdapat
mikro-mikro lainnya, tumbuhan, hewan. MC beruntung, disebut sebagai teladan
oleh pelukis Italia itu, sebuah penghukuman yang baik. Saya bisa memperkirakan betapa
pantasnya MC ketika di akhir abad ke-15. Itu.
Beberapa
waktu lalu, saya dan seorang teman baru saja menghadiri sebuah pertemuan.
Selepas pertemuan itu, kami memutuskan pulang dan mampir sebentar di sebuah
warung makan yang tak jauh dari kampus Unhas. Di sana, saya melihat seorang
anak kecil yang mungkin usianya belum genap 10 tahun, pakaiannya kumal,
wajahnya menghitam dilepoti debu jalanan. Ketika kami lewat di hadapannya, ia
tak menengadahkan tangannya.
Begitupun
seusai kami makan, ia tak menghampiri kami dan lekas meminta recehan. Ia masih
berdiri rapi di depan warung dan sesekali memperhatikan deretan motor yang
terparkir tanpa pola. “Oh, dia tukang parkir,” pikirku. Kami pun beranjak
meninggalkan warung, saya lalu menemui si anak tadi, ia tersenyum dan berterima
kasih ketika saya memberinya uang parkir.
Saya
menyebut dia MC, meski anak seusianya tak layak beradu nasib dan melawan
kerasnya arus kehidupan. Tapi, anak tadi baru saja memberi satu contoh yang
patut ditiru. Berbeda dengan anak seusia dan senasib dengannya, yang biasa saya
temukan sedang meminta atau mengutuk pengunjung yang tak memberinya recehan di
tempat perbelanjaan atau warung-warung makan. Gambaran di atas hanya sebagian
kecil dari rentetan hal tragis yang sering mewarnai kota Makassar.
Lantas,
apa kabar dengan Perda kota Makassar mengenai aturan
penertiban serta pembinaan para gelandangan dan pengemis maupun anak jalanan?
Jika saja aturan ini berjalan baik, tentunya kita tak akan lagi melihat ibu-ibu
yang menggendong anak sembari menengadahkan tangan, atau anak kecil yang jahil
menggoresi mobil-mobil pejabat lantaran tak diberi uang. Tapi, itu jika
atuan ini berjalan. Kalau saja pejabat-pejabat negara mengedepankan kepentingan
umum di atas urusan pribadi.
Saya
tidak ingin menyebut pihak-pihak itu dengan MC. Mereka tak memberi teladan
kepada khalayak Makassar sebagai pejabat negara yang patut ditiru. Kewajiban
yang menjadi amanah rakyat tak dijalankan dengan baik. Padahal, seyogyanya
pemerintah tak lepas tangan dengan kondisi yang melilit warga Makassar.
Saya
membayangkan, kalau-kalau Leonardo Da Vinci masih hidup hingga sekarang dan
menyaksikan warna-warni kota Makassar, tentunya ia takkan menyebut manusia
sebagai mahluk “tauladan “, jika mayoritas warga enggan peduli dengan kondisi yang
menimpa masyarakat.