Wednesday, April 3, 2013

Kolong langit


by google

Senja mulai memperlihatkan warna keemasannya dan tak tahu juga tiba tiba kau berkata “betapa indahnya langit.” Kita saling menatap ke awan, mendesah dalam hati dan membuat diri takjub dengan keindahan hari itu. “Mengapa tak kau katakana saja sayang?” pintaku dalam hati. Kau tak bersuara, hanya suara nafas yang sesekali kudengar.
Sembari menatap awan, seperti tak ingin melewatkan sore itu, meski hanya diam yang menemani kita. Tapi, itu tak membuat ragu. Kau mulai membuka pembicaraan, kudengar betapa takjubnya kau dengan kolong langit itu. “Di sana, bersemayam para dewa dan aku akan menunggu dewa keluar dari peraduan, keluar lewat kolong langit,” jelasmu.
Baru saja kau mengatakan akan menunggu turunnya dewa melewati kolong langit. Andai kau tahu, betapa inginnya aku menemanimu menunggu bersama dan menyaksikan kolong langit terbuka lebar, bahkan hingga ribuan tahun.
Senja mulai kembali ke peraduan dan perlahan kita tak lagi mampu menyaksikan langit dengan biru awannya. Aku menatapmu lamat lamat dan kau membalas tatapan itu, dingin dan tak bernyawa. Perlahan tanganku merasakan hawa kehangatan tanganmu, mulai menyejukkan dan darah dingin serasa mengalir ke pembuluh darah.
“Aku ingin selalu menyaksikan senja ditemani kolong langit dan menunggu turunya dewa, hanya bersamamu,” katamu. Dengan sigap segera kulingkarkan kedua tanganku ke pinggangmu, kaupun membalas dengan perlakuan yang sama.
Tak lama kita larut di kegelapan malam, hingga udara dingin mulai menusuk ke tulang.  Gemercik hujan mulai terdengar, “bahkan alam rayapun merestui kita,” selamu. Kupandangi wajahmu dan kujawab dengan senyuman, “aku merindukan senyuman menawan itu,” tambahmu. “bagaimana jika akau tak mampu lagi tersenyum?” kau menjawab “kalau begitu biarkan aku yang tersenyum, hingga membuatmu kembali tersenyum,” jawabmu.
Deru ombak tak membuat kita karam dalam lamunan cinta, malah semakin memperteguh indahnya terjal kehidupan jika bersamamu. Erat tanganmu sungguh menentramkan hatiku saat itu juga, hingga larut dalam kepingan episode kita malam itu.
Sungguh, malam itu hanya kita berdua.