Membaca esai esai Puthut EA yang ditulisnya dalam buku Makelar Politik : Kumpulan Bola Liar membuat saya ingin menjadi penulis. Tulisannya sederhana “saya pun bisa menulis hal hal yang sesederhana itu,” pikirku.
Benar saja, kemarin di awal
Ramadan, di kantor tempatku bekerja mengadakan lomba menulis artikel,
kuputuskan untuk ikut dan esaiku kubuat tepat di akhir deadline pengumpulan
artikel. Selain tak punya cukup waktu untuk bisa mrnuntaskan artikel itu, saya
juga agak sedikit memandang enteng, “pasti bisa juara 1, “ batinku. Esai itu
kubuat setelah sholat shubuh di hari minggu tanggal 24 Maret kulanjutkan lagi
di minggu malam setelah isya, sekitar jam 9 malam esaiku rampung dan kukirim
melalui google drive yang diaiapkan panitia.
Pengumuman pemenang keluar
tanggal 29 Maret 2024. Kulihat nama yang tertulis di Juara I, bukan namaku.
Lalu, mataku perlahan turun melihat di bawah nama Juara I, tertulis Juara II
dan lagi lagi di situ bukan namaku, aku terlalu menyepelekan. Kesempatan terakhir
ada di paling bawah, Juara III Andi Sulastri, sedikit bahagia bercampur kesal
ditambah kecewa. Tapi kucoba untuk realistis dan rasional, bagaimana mungkin
tulisan yang diproduksi singkat dan effortless menjadi tulisan terbaik.
Kutenangkan diriku, setidaknya ada namaku di deretan juara itu.
Yah, saya berani mengklaim
memiliki skill menulis, mungkin karena sejak SMP atau SMA saya punya
hobby baca buku, lalu ketika kuliah saya ikut bergabung ke dalam ekskul
Wartawan Kampus yang mengharuskan saya untuk menulis secara periodik.
Kemarin, setelah membaca lagi
tulisan Puthut saya menemukan diri saya sedang tenggelam di kedalaman kata,
saya berbicara dalam hati seolah sedang menulis kata yang ada di kepala saya.
Tapi sayangnya, saya sudah kadung mengantuk, tidak lama setelah itu saya sudah
menjadi penulis dan menghasilkan banyak buku dalam mimpi saya.






