Saturday, November 8, 2014

Lelaki Pemalas

Lihatlah, Ia mengayuhkan kaki dengan sangat malas
Sesekali tersendat oleh bebatuan nakal yang beserakan
Seperti dosanya, Ia tebar di mana saja
Keluhnya tak berkesudahan,
ditambah jidat yang diderasi oleh keringat karena seharian mengumpat
lalu itu, tengoklah ke kamarnya, tentu saja tak ada buku,
tapi, ada selimut dan seprai yang berbekas, jejak tidur siangnya
Sial, perempuan yang sering dimuntahkan gombalannya.

Perempuan

English Vinglish, sebuah film India yang diperankan oleh Saridevi. Saya tak begitu mengetahui artis India ini. tapi, sewaktu kecil, ketika film-film India mulai meramaikan layar kaca Indonesia, tengila saya suka diramaikan dengan nama itu, mungkin saya pernah mellihatnya berperan pada film-film lawas India, tapi saya sudah melupakan wajahnya, tentunya dia perempuan yang manis.

Pada film berdurasi dua jam lebih  itu, maaf saya tak begitu memperhatikan waktu ketika menonton film itu, tapi saya jelas mengingat berapa lama saya menghabiskan waktu waktu di depan layar laptop. Saya lanjutkan lagi, sebelum saya benar-benar larut dalam cerita yang tak begitu penting untuk saya sampaikan.
Film itu, menceritakan tentang seorang ibu dua anak sekaligus istri dari suami kantoran. Namanya, Shashi, wajahnya manis dan air mukanya meneduhkan, nontonlah fimnya bila tak percaya. Ia perempuan kampung yang dinikahi oleh seorang lelaki kota, perempuan yang sehari-harinya mengenakan pakaian tradisional India ini tak begitu fasih berbahasa Inggris, kenapa bahasa Inggris? Yah, cerita filmnya seperti itu, seorang ibu yang tak tau berbahasa Inggris, lalu ke New York dan selama tiga minggu di sana, Ia mengikuti kelas bahasa Inggris.
Tapi, film ini tidak hanya menceritakan tentang ketidak mampuan dan usaha seorang perempuan agar fasih berbahasa Inggris. Pada film ini, hal yang paling ingin ditunjukkan adalah kondisi perempuan yang dipaksa menerima bahwa kodratnya hanya berada di dapur dan kasur.
Shashi, seorang perempuan yang juga berjualan Ladoo, makanan khas India yang berbentuk bulat dan berwarna kuning. Suatu waktu, shashi dan suami sedang asik makan di rumah, dalam sebuah pembicaraan suaminya tiba-tiba meminta shashi untuk berhenti berjualan Ladoo, Shashi jelas menolak, “aku hanya punya satu keinginan, dan kau ingin mnghentikannya juga,” begitu kata shashi kepada suaminya.
Jika semua lelaki sepeti suami shashi, apa yang akan terjadi pada generasi yang akan datang. Semua perempuan tak dibolehkan bersekolah, tak boleh mendapatkan kehormatan. Saya pernah membaca sebuah paragraf, mungkin ditulis oleh seorang wartawan yang mengutip perkataan Dia Sastro, aktris Indonesia. Katanya, “seorang perempuan, entah akan menjadi ibu rumah tangga atau berkarir berhak menjadi perempuan yang cerdas dan kelak melahirkan keturunan yang cerdas pula.”
Saya pikir, kalimat itu, sinkron dengan sebuah penelitian kesehatan yang pernah saya baca di sebuah media online. “kecerdasan seorang anak sebetulnya diwariskan dari ibunya, bukan ayahnya,” kalau tak salah, begitu redaksinya. Tentunya, hal ini menjadi pukulan semangat bagi para perempuan agar tak membatasi diri untuk belajar. Belajar tak hanya di dalam kelas dan membaca tak hanya lewat buku.

Bakti

Di sini, gigil dan kemarau suka bergantian. Seminggu sebelum aku dan agam membeli selimut, kami sama-sama membenci malam. Tapi, mungkin agam menikmati gigilnya malam di Bakti, sebab Ia suka ditelpon oleh kekasihnya di Palangkaraya.
Jika malam semakin larut, gigilnya juga akan semakin menggelayut. Aku sering dibangunkan oleh gigil itu. Sekarang, setelah aku dan agam membeli selimut, dinginnya mulai teratasi. Tapi, panas dan kemaraunya yang kadang membuat kami lebih digigil rindu ingin pulang.
Sejak penempatan, hingga hari ini, yah, sudah sebulan kami di Gorontalo. Aku tak pernah kelaparan di sini, tentu itu yang membuat kami betah. Tapi, orang di luar sana tentu juga masih banyak yang kelaparan.
***
Setiap pagi tetangga sebelah suka datang ke rumah kami, ia membawa anaknya yang kecil, paling bungu, Nisa namanya. Aku tak bisa memastikan umurnya, tapi sekarang Ia sekolah di Taman Kanak-Kanak. Selama di sini, mungkin cuma dua kali aku melihatnya berangkat ke sekolah. Selebihnya, Ia berada di rumah atau ikut bermain bersama temannya. Ingin sekali rasanya kuteriaki, “Ayo Nisa, ke sekolah sana.”
Orang tua Nisa, satu dari beberapa orang tua lainnya yang tak begitu memedulikan pendidikan. Jika berjalan ke dusun-dusun, aku sering menemukan orang tua yang menikahkan anaknya di umur 14 tahun dan setelah itu putus sekolah. Setelah menikah, ada yang ikut jadi petani, tukang ojek atau bentor dan buruh.    
Aku jadi ingat masa kecilku, ketika ibu akan memukul aku dan adik-adikku jika malas ke sekolah. Hingga suatu hari, saking malasnya ke sekolah, aku harus berpura-pura sakit perut dan menangis. Ibu tentu saja percaya. Ah, ibu, aku sangat merindukanmu.
Ibu, di sini lebih dingin dari kampung kita
Benar katamu dulu, aku harus belajar mencintai dapur
Tapi, ibu jaga kesehatan yah di sana, beristirahatlah sebentar, jika kamu mulai lelah di dapur
Jika pulang nanti, aku akan menemanimu memasak dan mengolah tepung bersama