Tuesday, January 29, 2013

Museum Kebodohan


by google
Empiris, kata ini sudah tidak asing lagi buat kita sebagai mahasiswa, terkhusus bagi mereka yag mengaku sebagai penggiat filsafat. Empiris awalnya dipopulerkan oleh John Lock, seorang filsuf barat yang mengatakan bahwa tidak ada sesuatau yang diperoleh tanpa melalui penginderaan. Beberapa kalangan yang berasal dari lembaga ataupun seorang organisatoris acap kali menolak teori John Lock ini, bukan karena kandungan teori melainkan siapa si pemilik teori. Namun, dari sekian banyak yang menolak teori ini, banyak pula yang melihat bahwa teori empirisme tidak mutlak menjadi sesuatu yang patut untuk dipersoalkan.
                Suatu hari, ketika sekelompok mahasiswa saling memamerkan tokoh tokoh yang teorinya mereka kuasai, saling debat antar teori, seorang diantara mereka tetap kaku, terdiam, bungkam dan tak sepatah katapun keluar dari mulutnya. Sebut saja ia adalah A, seorang yang dikenal pendiam, dingin, bodoh dan ia juga dijuluki “yes man” oleh teman temannya.
                Di mata teman temannya, ia hanyalah seorang pesuruh, tak ada hal yang bisa digambarkan positif darinya oleh teman temannya, ia terus melakukan apapun yang diminta oleh orang orang yang berada di sekitarnya, ia bahkan tak pernah memiliki keinginan apapun, mungkin keinginannya hanyalah terlahir sebagai pesuruh, itulah dia si manusia “yes man”.
                Tak ayal, mereka yang berada di lingkungan si A memanfaatkan hal ini, menjadikan ia sebagai budak, bukan lagi sebagai teman. A pun merasa senang dengan karakternya ini, merasakan kepuasan yang berbeda dari teman temannya. Seperti itu yang ditunjukkan oleh A kepada lingkungannya, meski sesekali ia dijuluki sebagai seorang pesuruh, ia tak sedikitpun menunjukkan ketidaksenangannya terhadap sikap lingkungan kepadanya.
                Begitupun dengan lingkungannya, hanya menilai si A secara kasat mata, mengukur kemampuan A hanya seperti apa yang ditunjukkan A kepada mereka. Namun, tanpa disadari oleh A maupun teman temannya, A adalah seorang yang genius, ia memiliki kemampuan yang lebih dari yang ia tunjukkan ke lingkungan maupun teman temannya, ia cerdas sangat cerdas.
                Kecerdasan si A ini tak pernah nampak di hadapan teman temannya, namun beberapa orang sedikit menyadari jika si A memiliki sesuatu yang berbeda dari orang lain pada umumnya. Si A tak jarang memikirkan hal yang di luar dari orang lain pikirkan, pengetahuan umum si A juga tak dapat diragukan, A adalah seorang pembaca ulung yang lewat itu kecerdasannya mulai teraktualkan
                Perlahan A sedikit menyadari hal ini, ia mulai banyak diam sembari merenungkan perlakuan dan sikap lingkungan terhadapnya. Iapun menilai bahwa lingkungan sekitarnya hanyalah meniainya secara kasat mata, secara empiris. Seperti halnya teori John Lock yang mengatakan pengetahuan hanyalah lahir dari mereka yang memiliki indra.
                A bukanlah satu satunya orang yang mengalami diskriminasi perbuatan akibat keterbatasan pengetahuan dari lingkungannya. Kesalahan lingkunganlah yang membuat ia terpaksa memerankan tokohnya sebagai A si manusia “yes man”, ternilai bodoh dan dibuat semakin bodoh karena tak diberi kesempatan seperti halnya teman temannya yang lain.
                Hal inilah yang kadang luput dari penglihatan kita, padahal ada banyak jalan yang bisa kita susuri tanpa hanya mengandalakan kemampuan indra, banyak cara untuk menunjukkan kecerdasan seseorang tanpa harus mendiskriminasi karena keterbatasan pengetahuan kita.
                Banyak orang yang menilai kecerdasan hanya dari apa yang ia mampu lihat, dan mampu mendengar. Jika seseorang seperti A tadi tidak mampu memperlihatkan kemampuannya melalui apa yang orang lain bisa lihat dan dengar, maka jadilah ia bodoh di mata lingkungan. Padahal pendengaran dan penglihatan kita sangatlah terbatas. Hanya mampu menangkap apa yang disajikan oleh mata dan telinga. Padahal kemampuan analisis, kemampuan membaca psikologis dan kemampuan melihat situasi juga bagian dari kecerdasan yang tak selalu nampak secara empirik, dan hal inilah yang dimiliki si A.
                Setiap manusia dibekali dengan keceradsan yang beragam, dari kecerdasan yang beragam ini ada yang teraktualkan dan ada pula yang tidak. Ketidakmampuan untuk mengaktualkannya inilah yang ternilai sebagai sebuah kebodohan dan kecerdasan yang teraktualkanlah yang didefinisikan sebagai kecerdasan murni. Padahal, setiap dari kita memiliki kecerdasan tersendiri, hanya kita yang selalu mendiskriminasi mereka dengan menempatkannya ke sebuah museum kebodohan dan kita sengaja menjauhkan diri dari mereka.

Melihat Gaarder dalam Gelas Kaca


Joestein Gaarder
Langit pagi ini agak gelap, mendung yang sudah diperlihatkan beberapa jam yang lalu mulai menumpahkan  tetesan hujan hingga membasahi tanah kering di sebuah bukit tandus nan panas. Bukan kemarahan langit ataupun tangisan seorang petani, yang meraung raung karena sudah bertahun tahun sawahnya tak dialiri air yang membuat hujan begitu derasnya turun membasahi  khatulistiwa.
Di dalam ruangan yang tidak begitu luas, aku berkutat dengan beberapa novel karya seorang penulis terkenal, Jostein Gaarder. Ia begitu lihai memainkan kata perkata hingga membentuk kalimat demi kalimat yang mengisi setiap lembaran buku yang ditulisnya. Dengan mengandalkan penalaran dan daya imajinasinya yang kreatif, ia mampu menghasilkan beberapa buku yang menyihir pembaca menjadi seorang filosofis.
Tidak hanya itu, gagasan yang dihadirkan oleh seorang Gaarder begitu luar biasa. Ia tidak hanya sekadar memikirkan sebuah ide yang pantas untuk dituliskan lalu serta merta dibuatkan novel ataupun karya fiksi lainnya, namun dengan kedalaman pengetahuan, ia mengelaborasi semua ide ide lalu mempersekutukannya dengan pengetahuan filsafat dan pengalaman yang dimilikinya.
Sepertinya, ia menggabungkan kemampuan analisa, pengalaman, dan daya kreatifitasnya untuk kemudian dibuatkan menjadi sebuah karya yang luar biasa dan tentu saja sangat fenomenal. Tidak salah, jika ribuan pembaca rela mengantri untuk mendapatkan buku karya Gaarder.
Gaarder juga dalam penulisannya kerap kali menggunakan metode penulisan yang membuat pembaca menjadi penasaran dengan buku yang ditulisnya. Bahkan buku bukunya itu dijadikan sebagai pemacu adrenalin, mengantarkan ketakutan dan ribuan tanya ke kepala pembaca, sehingga wajar saja ketika membaca buku buku Gaarder kita seolah terhipnotis dan terperangkap ke dalam sebuah labirin raksasa yang akan memaksa kita untuk menyelesaikan permainan itu sendiri.
Namun, beberapa buku yang sudah disajikan oleh ahli filsafat asal Swedia itu, acap kali membuat pembaca merasa jenuh di bagian awal penuturan penulis. Tapi, mungkin itu hanyalah salah satu siasat yang disengaja dibuat oleh penulis untuk menambah gairah pembaca dalam menangkap kata demi kata yang tertuang dalam bukunya itu.
Itulah Gaarder, namun semua hal yang saya tuliskan tentangnya, saya yakin belum cukup untuk menggambaran betapa menakjubkannya ia dalam penguasaan tulisannya. Dan saya hanyalah seorang yang sedang belajar memuat hal yang menarik dari seorang yang pernah membuat novel yang diterjemahkan ke dalam 53 bahasa dunia, novel yang mengantarnya menikmati kesuksesan yang kini digenggamnya.

Monday, January 21, 2013

Plato dan Ratusan Kue




Makassar - Plato, nama itu sungguh tidak asing lagi buat para pencinta filsafat. Bagaimana tidak, Plato merupakan sosok filsuf yang terkenal dengan alam ideanya. Ia murid Sorates yang menceritakan semua kisah gurunya itu ke dalam buku. Socrates memiliki kisah hidup yang sangat tragis, hal ini dapat diketahui berkat sang murid yang menuangkannya dalam bentuk buku, Socrates Apologi, Dialog Socrates dan berbagai judul buku lainnya, ia sangat berjasa di dunia filsafat.
Melalui Platolah pemikiran Socrates, Sang Guru dapat dikenal, melaluinya juga filsafat dapat berkembang di Yunani, bahkan di Indonesia sampai saat ini. Plato yang ketika Sang guru meminum racun, ia berusia 29 tahun, usia yang cukup matang untuk memperdalam filsafat. Namun, apa sebenarnya yang dibawa oleh Plato?
Plato, bukan sekadar membawa ajaran seperti halnya para kaum spohist, yang begitu sangat empiris, menurutnya, hal ini lebih dari hanya menonton di rumah, atau menyaksikan pertunjukkan pemilihan ratu kecantikan. Ada hal yang mendasar dari hidup ini yang tidak bisa hanya disaksikan dengan indra, ada sesuatu yang tersembunyi dari apa yang terjadi selama berribu ribu tahun, bahkan hingga sekarang.
Bagi Anda yang kini, tengah membaca kata demi kata dari tulisan seorang yang tidak ada apa apanya seperti saya ini. Ada pertanyaan mungkin sama dengan yang diajukan oleh sang filsuf, bukan sama, tapi sejenis. Untuk apa Anda hidup???
Makan, tidur, bangun, cari uang, hingga tidur kembali, seperti inikah rotasi kehidupan Anda setiap hari?? Atau, makan, tidur, kuliah, belajar, sampai tidur lagi?? Pernahkan Anda meluangkan waktu barang semenit untuk memikirkan tentang kehidupan. Untuk apa Anda hidup, siapa Anda, atau bagi Anda yang percaya bahwa ada dunia yang kekal setelah ini,  pernahkah Anda bercermin dan bertanya pada diri sendiri, apakah akhirat betul adanya?
Tak jarang saya mendengar, baik itu dari teman, sahabat ataupun orang yang tidak sengaja saya temui di jalan yang mengatakan, “jalani hidup seperti halnya air yang mengalir”. Namun buat saya, terkadang air yang mengalir dari hulu ke hilirpun harus terhenti karena bebatuan besar yang menghalangi air sehingga terhambat untuk segera sampai ke dasar sungai. Lalu, masihkah Anda menginginkan hidup Anda seperti air yang mengalir??
Yah, hal yang mendasar yang saya sampaikan bukan itu, namun pemikiran oleh seorang filsuf besar. Tapi, tidak ada salahnya buat kita untuk merenung sejenak mengenai hal tersebut.
Plato, dengan proyek besarnya meyakini bahwa di balik alam materi ini, terdapat sesuatu yang kekal, tidak akan musnah. Materi yang tersusun dari zat zat yang terindrai itu akan musnah bersama musnahnya alam materi ini, namun materi ini tidak memusanahkan sesuatu yang kekal, sesuatu yang lebih substansi dari sekadar materi, Itulah alam ide.
Di alam ide inilah semuanya bersifat kekal, tak terbatas dan alam ide ini bukanlah pengetahuan yang dangkal seperti yang dipahami oleh para kaum empiris. Dunia yang kekal dan abadi ini bersentuhan dengan hal yang sifatnya spiritual dan sesuatu yang abstrak.
Saya teringat dengan sebuah analogi yang diceritakan oleh Jostein Gardeer tentang plato dalam bukunya “Dunia Spohie”. Beberapa paragraf menggambarkan pemikiran plato seperti halnya sebuah ratusan kue yang dibuat oleh seorang koki yang handal. Ratusan kue ini jika dilihat sepintas tak memiliki perbedaan yang menonjol, kue yang satu dengan kue yang lainnya sama, bentuk, warna, ukuran, semuanya sama. Namun, jika diperhatika secara saksama, sebetulnya memiliki sedikit perbedaan. Tapi, apa sebtulnya yang ingin disampaikan oleh Gardeer dalam novelnya itu??
Dari ratusan kue yang persis sama itu (dianggap sama), jelas memiliki cetakan yang mampu menghasilkan beberapa kue dengan tingkat kemiripan yang sangat tinggi, hingga menghasilkan ratusan kue. Pahaman Plato yang dijelaskan oleh Gardeer itu menggambarkan bahwa cetakannya pastilah lebih baik, lebih sempurna dibanding hasil cetaknya, dari ratusan kue yang dihasilkan itu, pastilah tidak sebanding dengan cetakan kuenya. Cetakan kue inilah yang memiliki kualitas kesempurnaan yang lebih tinggi dibanding kue kue itu tadi.
Seperti halnya alam materi dan alam ide. Dibalik keindahan dan kesempurnaan alam materi, alam ide yang diposisikan sama dengan cetakan kue pastilah memiliki tingkat keindahan yang jauh lebih dibanding alam materi.
Benar, Plato meyakini jika terdapat sesuatu yang kekal, abadi. Bagi kaum agamawan, menyebutnya alam akhirat. Di sini tak lagi ditemukan sesuatu yang bersifat empiris, tidak ada sesuatu yang bisa dinilai dari indra.

Akhir Hayat Sang Filsuf


Makassar - Hari ini, sepertinya saya harus tercengang, kaget, bungkam dan terkejut dengan sebuah novel yang dikarang oleh Jostein Gardeer. Dia cukup lihai dalam menghasilkan kalimat demi kalimat yang disusun dari kata kata yang cukup nakal. Namun, hal yang substansial dari buku ini sebenarnya, bukan soal siapa si penulis, tapi apa yang ditulis.

Kadang, berpikir mengajak kita untuk berada di dunia yang gelap, membayangkan sesuatu atau sesosok, atau apapun itu. Berpikir, seperti halnya mencerna kata demi kata atau hasil realitas yang baru saja kita saksikan. Namun, pernahkah kita berpikir dengan apa kita berpikir??? Lalu, apa itu berpikir???

“Akal”, kata ini sepertinya bukan hal yang baru untuk kita dengarkan. Lalu, benarkah kita berpikir dengan akal?? Seperti apa akal itu?? Di mana keberadaannya?? Benarkah di dalam otak??

Berbicara soal akal sebetulnya hanya sebagai pengantar untuk perbincangan kita selanjutnya. Pernah dengar Socrates, Plato dan Aristoteles? Mungkin, kamu salah satu dari ribuan orang yang belum pernah mendengar nama mereka, atau mungkin kamu pernah mendengar atau sekadar membaca dari buku buku nama mereka tertera dalam sebuah cerita novel, filsafat atau dalam buku yang menjelaskan tentang sesuatu yang sangat mendasar. Mungkin juga kamu sama seperti saya, yang sedang jatuh cinta dengan ketiga sosok itu??? Entahlah, itu cukup Anda saja yang tahu.

Awalnya, saya hanya mendengar sepintas nama mereka, mendengar nama mereka disebut sebut dalam perbincangan filsafat. Dan aku tidak suka dengan kata itu. Tapi, lambat laun, mendalami tentang filsafat atau membaca referensi dari buku atau internet, bahkan membaca novel “Dunia Sophie” membuatku begitu mencintai filsafat, mencintai ketiga sosok di atas.

Filsafat, mencintai kebijaksanaan. Konon, ketika Socrates masih hidup ia begitu sangat mencintai kebijaksanan. Hingga pada suatu waktu sesorang menanyakan kepada seorang peramal di kota Yunani. “Peramal, siapa yang sesungguhnya yang paling bijaksana di kota ini?,” tanya seorang warga Yunani. “Ia adalah Socrates,” jawab Sang Peramal.

Mendengar hal ini, Socrates kaget bukan kepalang. Ia bergegas mencari tahu kebenaran dari kabar tersebut, hingga ia rela menyelinap dan bertanya kepada setiap orang yang ditemuinya dengan pertanyaan yang filosofis. Hingga sampai akhirnya ia berkesimpulan, “Mungkin, benar dikatakan oleh si peramal, Akulah orang yang bijaksana,” Kata Socrates dalam hati.

Benar, Socrates adalah seorang filsuf, seorang mencintai kebijaksanaan. Namun, ia sangat rendah hati, ia menolak dikatakan seorang bijaksana, ia bahkan kadang memposisikan diri sebagai orang yang tolol, bodoh dibanding kebanyakan orang.

Lain halnya dengan orang orang sophist, yang terdiri dari kaum cerdas, bijaksana, namun mereka hanya menjadikan pengetahuannya sebagai komoditas, memperjual belikan pengetahuan, hal ini bukan sesuatu yang salah, benar. Namun, kaum sophist ini hanya ingin berbagi pengetahun jika ditukarkan dengan uang atau sesuatu yang bernilai tinggi. Merekalah orang orang sophist.

Tidak hanya itu, kaum sophist bahkan melakukan doktrinisasi terhadap petinggi petinggi Yunani pada masa itu. Mereka menanamkan ajaran yang sangat empiris, menilai kebenaran hanya dari bisa tidaknya kebenaran itu terindari, itulah kebenaran yang sesungguhnya.

Hal ini jelas bertentangan dengan pengetahuan yang diajarkan oleh Socrates, Socrates yang kisah hidupnya dicatat oleh sang Murid, Plato menjelaskan bahwa ada kebenaran yang tidak hanya bisa diindari, namun, akallah yang mampu menangkapnya. Sedangkan kau sophist menolak adanya pengetahuan akal.

Lambat laun, petinggi Yunani yang mayoritas telah tersisipi oleh pengetahuan empiris dari kaum sophist merasa terganggu denga keberadaan Socrates. Pemerintahan mengira Socrates memperkenalkan dewa dewa baru yang jelas bertentangan dengan yang diyakini oleh para kaum empiris. Akhirnya, mereka memberikan dua pilihan kepada sang filsuf. Mati atau pergi dari kota yunani. Demi mempertahankan kebenaran yang diemban, sang filsufpun akhirnya memilih untuk mengakhiri hidupnya di kotanya tersebut dengan jalan meminum racun cemara.