Wednesday, December 11, 2013

Dor… Dor… Dor…


by google

Suara langit dipenuhi dengan dentuman senjata, awan berganti dengan gumpalan yang menghitam dan sesekali terdengar letusan kembang api. Langit menjadi ramai hari itu, di bawah langit orang-orang bak semut berkerumun yang berantakan karena setitik air. Hujan datang memenuhi kerinduannya kepada tanah-tanah kering karena pendosa.
Satu persatu datang silih berganti, berlarian sambil menutup hidung. Wajah-wajah mereka sengaja dibedaki odol, katanya agar mata tak perih terkena gas air mata. Saya berada di antara kerumunan semut, menjadi semut, lalu ikut berhamburan dengan semut-semut lain. Saya memanggil satu persatu semut untuk ikut bersembunyi di bawah lorong rumah semut yang baru saya kenal hari itu.
Tak ada yang bisa saya bicarakan kepada sore yang sebentar lagi berganti dengan malam, senja meninggalkan kami dalam rintik hujan. Seseorang datang menghampiri. Katanya, saya dan yang lain harus tetap bersembunyi di bawah rumah, “di luar berbahaya, polisi sedang mencari mahasiswa,” jelasnya dengan nafas yang terengah-engah.
Mulut mulai komat-kamit, batin tak keruan, dan tubuh menggigil oleh guyuran hujan yang sejak siang membasahi pakaian kami. Tak ada yang tersisa, kecuali ketakutan yang hinggap dan menambah deretan do’a yang kami panjatkan.
Seseorang tiba-tiba berlari ke arah kami, berhenti sejenak, lalu menuju pagar dan melompat, ia lantas menghilang di kegelapan malam. Seseorang yang lainnya datang dan tergesa-gesa, memegang pistol dan memakai topi. Ia meneriaki kami, lantang dan seolah-olah menyampaikan simbol bahwa ia adalah pihak kepolisian. Ia mencari orang yang lebih dulu datang lalu menghilang itu, tak ada yang mengeluarkan suara, hanya terdengar degupan jantung yang ikut tergesa-gesa. Ia yang menggenggam pistol di tangannya tadi pergi bersama kekesalannya, kami lalu menceritainya.
Di luar, jalan masih ramai, lampu kendaraan memenuhi malam itu, juga polisi dengan senapan panjang di tangan kanan, yang sudah berkali-kali menghantam siapa saja ditemuinya. Selama tujuh jam kami berada dalam ketakutan, kami menahan perut yang lapar, yang hanya di isi makan sejak pagi tadi, selamat, itu yang berharga bagi kami sekarang.
Kami lantas memberanikan diri keluar dari kolong rumah. Di luar tak seramai sore tadi, kata seseorang di antara kami, saya ikut bergegas dari tempat itu. Tiba-tiba saya mendapati motor yang sengaja dibuang ke parit oleh polisi. Untung saja, beberapa warga membantu mengangkat kendaraan roda dua itu, “itu motorku,” kata seseorang.
Motor itu sadelnya sengaja dicabik dengan sangkur, bannya ditusuk juga dengan sangkur, kacanya pecah dan  tubuh motor itu meninggalkan garis-garis. “Di sana masih ada dua motor yang dibuang oleh polisi,” kata seseorang.
Yang lain mulai geram saat polisi hanya tertawa sambil bersiul-siul menggoda perempuan yang bergantian lalu lalang di hadapannya. Seseorang meminta tolong kepada polisi, tapi si polisi tak mengindahkan, katanya mereka capek. Padahal, kata Negara, polisi bertujuan untuk mengayomi warganya.  Tapi, sudahlah, ini Indonesia. Jangan membayangkan pemerintah, polisi, tentara, birokrat akan mendengarkan suara rakyat. 

Tuesday, October 15, 2013

Benci


by google


lidahku terlalu rumit untuk mengucap cinta
pun, di dalam dada tak kutemukan apa itu cita
aku memutuskan untuk membenci
kutemukan damai bersama mereka yang ikut membenci

hahaha…
aku semakin riang karena aku tak sendiri
ada orang orang yang tak waras di sini bersamaku
ketidakwarasanku justru menjadi alasanku untuk membenci

di sana, aku hanya melihat kepura-puraan
shit…
akan kuludahi saja wajah mereka
lalu kuhina seenak hatiku

entah, sehebat apa mereka bersembunyi dari jurang nista
padahal, di sanalah mereka lahir
aku yakin, tak ada cinta di sisi mereka
berbeda denganku, berada dalam kungkungan pecinta kebencian

Kalah


by google

Aku terlalu lelah, pagiku kumulai dari atas ranjang dengan tubuh yang masih tertelungkup di atas kasur berbiru tua. Aku suka pagiku, di antara shubuh menjelang pagi, aku sengaja berdiam lama di atas kasur. Aku suka memperhatikan lekat-lekat dinding kamar, juga langit langit kamar yang bercat merah muda itu.
Warna merah mudanya selalu menelanku dalam kenangan empat tahun silam. Dinding itu dan jendelanya seperti menamparku dalam kisah-kisah yang selalu ingin kubuang jauh-jauh. Tak ada yang indah kala itu, aku
hanya berkawan sepi hingga usia memaksaku untuk memberontak dan melawan jiwaku.
Aku terbawa pada lorong buntu yang gelap. Hampir hampir aku tenggelam bersama mimpiku jika aku tak berani melakukan penolakan. Meski itu membuatku meraung-raung, membuat jiwaku seperti ingin menerkam siapa saja. Sungguh, aku menyesali sisa hidupku.
Perkenalanku dengan diriku membuat jiwaku didera sembilu, berkali kali hatiku sakit dan dibuat menangis. Jiwaku meronta, mulutku mengatup rapat-rapat rahasia yang kusimpan. Dan aku membiarkan.
Aku selalau terjebak oleh ketakutan yang belum tentu akan terjadi. Selalu ada jurang di ujung jalan keberanianku dan aku selalu jatuh di sana, sehingga aku tak ingin mengulangnya lagi. Keberanianku terkalahkan oleh keberingasan yang terus membuntutiku. Ada yang mengekoriku dari belakang, kusebut itu kekalahan.
Aku selalu yakin jika Tuhan hanya ingin aku kalah. Tak ada kemenangan yang pernah kucapai, kecuali terlahir dan mengalahkan ribuan sperma lainnya. Bahkan, untuk mengalahkan diriku sendiri aku tak mampu. “Sudahlah, menyerah saja!” ada yang selalu berbicara dari dalam dadaku. Tapi, aku selalu menuruti dan menirukannya.



Friday, October 4, 2013

Da Vinci dan Pengemis Makassar


by google
Baru saja saya membuka majalah nasional yang bertahun 2008. Sengaja kucari Catatan Pinggiran milik Goenawan Muhammad, saya menemukan “Da Vinci” di tulisannya pada Februari 2008 silam. Ada sepotong kalimat yang dikutinya dari Leonardo Da Vinci, saya ikut tertarik mengutipnya lagi.
“… manusia, yang dengan rasa ingin tahu yang riang berharap mendapatkan musim semi baru, musim panas baru, dan bulan-bulan baru selamanya… tak tahu bahwa dalam kerinduannya itulah terbawa kuman kematiannya sendiri.”
Leonardo menyebut manusia dalam catatannya dan menuliskannya sebagai “tauladan”. Tapi, itu di akhir abad ke-15. Kata “tauladan” tidak lagi ditemukan dalam kamus besar bahasa indonesia, ia terganti dengan “teladan”. Teladan dimaksudkan sebagai sosok atau sesuatu yang patut ditiru.  Manusia dikategorikan sebagai sesuatu yang patut ditiru.
saya lebih senang menyebut manusia dengan “MC”, mikrokosmos, sedangkan makrokosmos adalah alam semesta. Mikro berarti kecil, itu sebabnya manusia disebut MC karena ia salah satu bagian terkecil dari alam semesta. Dimana masih terdapat mikro-mikro lainnya, tumbuhan, hewan. MC beruntung, disebut sebagai teladan oleh pelukis Italia itu, sebuah penghukuman yang baik. Saya bisa memperkirakan betapa pantasnya MC ketika di akhir abad ke-15. Itu.
Beberapa waktu lalu, saya dan seorang teman baru saja menghadiri sebuah pertemuan. Selepas pertemuan itu, kami memutuskan pulang dan mampir sebentar di sebuah warung makan yang tak jauh dari kampus Unhas. Di sana, saya melihat seorang anak kecil yang mungkin usianya belum genap 10 tahun, pakaiannya kumal, wajahnya menghitam dilepoti debu jalanan. Ketika kami lewat di hadapannya, ia tak menengadahkan tangannya.
Begitupun seusai kami makan, ia tak menghampiri kami dan lekas meminta recehan. Ia masih berdiri rapi di depan warung dan sesekali memperhatikan deretan motor yang terparkir tanpa pola. “Oh, dia tukang parkir,” pikirku. Kami pun beranjak meninggalkan warung, saya lalu menemui si anak tadi, ia tersenyum dan berterima kasih ketika saya memberinya uang parkir.
Saya menyebut dia MC, meski anak seusianya tak layak beradu nasib dan melawan kerasnya arus kehidupan. Tapi, anak tadi baru saja memberi satu contoh yang patut ditiru. Berbeda dengan anak seusia dan senasib dengannya, yang biasa saya temukan sedang meminta atau mengutuk pengunjung yang tak memberinya recehan di tempat perbelanjaan atau warung-warung makan. Gambaran di atas hanya sebagian kecil dari rentetan hal tragis yang sering mewarnai kota Makassar. 
Lantas, apa kabar dengan Perda kota Makassar mengenai aturan penertiban serta pembinaan para gelandangan dan pengemis maupun anak jalanan? Jika saja aturan ini berjalan baik, tentunya kita tak akan lagi melihat ibu-ibu yang menggendong anak sembari menengadahkan tangan, atau anak kecil yang jahil menggoresi mobil-mobil pejabat lantaran tak diberi uang. Tapi, itu jika atuan ini berjalan. Kalau saja pejabat-pejabat negara mengedepankan kepentingan umum di atas urusan pribadi.
Saya tidak ingin menyebut pihak-pihak itu dengan MC. Mereka tak memberi teladan kepada khalayak Makassar sebagai pejabat negara yang patut ditiru. Kewajiban yang menjadi amanah rakyat tak dijalankan dengan baik. Padahal, seyogyanya pemerintah tak lepas tangan dengan kondisi yang melilit warga Makassar.
Saya membayangkan, kalau-kalau Leonardo Da Vinci masih hidup hingga sekarang dan menyaksikan warna-warni kota Makassar, tentunya ia takkan menyebut manusia sebagai mahluk “tauladan “, jika mayoritas warga enggan peduli dengan kondisi yang menimpa masyarakat.

Monday, September 30, 2013

Bocah


by google

Pepohonannya rimbun, airnya mengalir deras, pun dengan kolam-kolam yang bening oleh air yang berasal dari gunung. Sesekali saya dikagetkan oleh kupu-kupu indah yang melintas di depan mata. Jejeran pedagang kaki lima sengaja berdiri rapi di pinggir jalan. Jalanan masuk ke pemandian cukup jauh, tapi itu tak terasa karena suhu dingin yang menusuk-nusuk di kulit menggantikan hawa panas yang berjam-jam saya nikmati selama perjalanan. Juga ada banyak turis di sana.
Adalah Bantimurung, salah satu kecamatan di Maros, Sulawesi Selatan. Bantimurug terkenal karena wisata alamnya yang indah. Udara dingin dan sejuk membuat saya sengaja menghirup nafas dalam dalam, hal ini karena saya tidak menemukan hawa seindah itu di Makassar.
Sejak SMA saya sering mendengar Bantimurung. Saya biasa mendengar keindahan Bantimurung dari kakak senior. Ada ritual khusus yang melekat di sekolahku. Biasanya, setelah pengumuman ujian nasional, alumni sekolah saya diajak berwisata ke luar kabupaten dan Maros menjadi objek yang paling sering dikunjungi. Saya pun selalu bermimpi cepat menyelesaikan studi di SMA. Sayang, karena sebuah insiden terjadi, sehingga tak ada liburan setelah ujian, tak ada objek wisata yang saya kunjungi.
Namun, sejak menginjakkan kaki di Unhas, hampir sepuluh kali saya mengunjungi tempat pariwisata itu. Dan setiap kali ke sana, hanya takjub yang sering saya gumamkan. Bantimurung itu sangat indah. Di sana, saya hanya melihat gelak tawa, kebahagiaan dan senyum takjub dari pengunjung. Saya tau, mereka sama dengan saya, senang karena keindahan alam yang disajikan.
Tapi, ketika saya berjalan-jalan sembari memperhatikan geliat lucu orang-orang di sana, saya melihat sekumpulan anak kecil. Mereka tampaknya sibuk menggaruk-garuk bungkusan nasi, “ah, itu tumpukan sampah,” gumamku. Saya sengaja tak memerhatikan bocah bocah itu, tapi mereka nampaknya sesekali melihat ke arahku.
“ini bagus, ini masih bagus,” kata seseorang di antara kerumunan anak kecil itu.
“saya yang ini saja,” terdengar mereka saling menimpali.
Tidak ada raut kesedihan di antara mereka. Saling menertawai, beberapa memegang telur masak yang sudah diberi bumbu, hingga warnanya memerah, dilengkapi biji-biji yang kecoklatan dari cabe. Mereka nampaknya menikmati kerjaan itu.
Di tempat yang berbeda, di sebuah rumah makan mahal lagi bergengsi, saya sering menemukan sisa makanan yang sering kali sengaja tak dihabiskan oleh pengunjung restoran. Padahal, mereka sudah mengeluarkan banyak uang demi duduk berlama-lama di ruang ber-AC dan menikmati makanan yang bagi saya tidak begitu nikmat.
Saya masih sering membingungkan tentang keadilan dan keseimbangan.