![]() |
| by google |
Aku
terlalu lelah, pagiku kumulai dari atas ranjang dengan tubuh yang masih tertelungkup
di atas kasur berbiru tua. Aku suka pagiku, di antara shubuh menjelang pagi, aku
sengaja berdiam lama di atas kasur. Aku suka memperhatikan lekat-lekat dinding
kamar, juga langit langit kamar yang bercat merah muda itu.
Warna
merah mudanya selalu menelanku dalam kenangan empat tahun silam. Dinding itu
dan jendelanya seperti menamparku dalam kisah-kisah yang selalu ingin kubuang
jauh-jauh. Tak ada yang indah kala itu, aku
hanya berkawan sepi hingga usia
memaksaku untuk memberontak dan melawan jiwaku.
Aku
terbawa pada lorong buntu yang gelap. Hampir hampir aku tenggelam bersama
mimpiku jika aku tak berani melakukan penolakan. Meski itu membuatku
meraung-raung, membuat jiwaku seperti ingin menerkam siapa saja. Sungguh, aku
menyesali sisa hidupku.
Perkenalanku
dengan diriku membuat jiwaku didera sembilu, berkali kali hatiku sakit dan
dibuat menangis. Jiwaku meronta, mulutku mengatup rapat-rapat rahasia yang
kusimpan. Dan aku membiarkan.
Aku
selalau terjebak oleh ketakutan yang belum tentu akan terjadi. Selalu ada
jurang di ujung jalan keberanianku dan aku selalu jatuh di sana, sehingga aku
tak ingin mengulangnya lagi. Keberanianku terkalahkan oleh keberingasan yang
terus membuntutiku. Ada yang mengekoriku dari belakang, kusebut itu kekalahan.
Aku selalu
yakin jika Tuhan hanya ingin aku kalah. Tak ada kemenangan yang pernah kucapai,
kecuali terlahir dan mengalahkan ribuan sperma lainnya. Bahkan, untuk
mengalahkan diriku sendiri aku tak mampu. “Sudahlah, menyerah saja!” ada yang
selalu berbicara dari dalam dadaku. Tapi, aku selalu menuruti dan menirukannya.







No comments:
Post a Comment