Tuesday, October 15, 2013

Kalah


by google

Aku terlalu lelah, pagiku kumulai dari atas ranjang dengan tubuh yang masih tertelungkup di atas kasur berbiru tua. Aku suka pagiku, di antara shubuh menjelang pagi, aku sengaja berdiam lama di atas kasur. Aku suka memperhatikan lekat-lekat dinding kamar, juga langit langit kamar yang bercat merah muda itu.
Warna merah mudanya selalu menelanku dalam kenangan empat tahun silam. Dinding itu dan jendelanya seperti menamparku dalam kisah-kisah yang selalu ingin kubuang jauh-jauh. Tak ada yang indah kala itu, aku
hanya berkawan sepi hingga usia memaksaku untuk memberontak dan melawan jiwaku.
Aku terbawa pada lorong buntu yang gelap. Hampir hampir aku tenggelam bersama mimpiku jika aku tak berani melakukan penolakan. Meski itu membuatku meraung-raung, membuat jiwaku seperti ingin menerkam siapa saja. Sungguh, aku menyesali sisa hidupku.
Perkenalanku dengan diriku membuat jiwaku didera sembilu, berkali kali hatiku sakit dan dibuat menangis. Jiwaku meronta, mulutku mengatup rapat-rapat rahasia yang kusimpan. Dan aku membiarkan.
Aku selalau terjebak oleh ketakutan yang belum tentu akan terjadi. Selalu ada jurang di ujung jalan keberanianku dan aku selalu jatuh di sana, sehingga aku tak ingin mengulangnya lagi. Keberanianku terkalahkan oleh keberingasan yang terus membuntutiku. Ada yang mengekoriku dari belakang, kusebut itu kekalahan.
Aku selalu yakin jika Tuhan hanya ingin aku kalah. Tak ada kemenangan yang pernah kucapai, kecuali terlahir dan mengalahkan ribuan sperma lainnya. Bahkan, untuk mengalahkan diriku sendiri aku tak mampu. “Sudahlah, menyerah saja!” ada yang selalu berbicara dari dalam dadaku. Tapi, aku selalu menuruti dan menirukannya.



No comments:

Post a Comment