Sunday, February 10, 2013

Indonesia Pimpin Peradaban tahun 2045



by google
            Kemajuan suatu negeri tergantung pada kemampuan generasi mudanya. Generasi muda yang mampu memaikan perannya sebagai agen perubahan akan membawa negerinya mencapai puncak peradaban. Namun, membangun peradaban melalui generasi muda bukanlah perkara mudah. Diperlukan usaha serius dari semua pihak, termasuk perguruan tinggi. Untuk itu sejak 2010 lalu, Unhas berusaha memberikan pendidikan karakter kepada mahasiswa baru melalui program Mengelola Hidup Merencanakan Masa depan (MHMMD). Berikut wawancara Andi Sulastri dari PK identitas dengan Marwad Daud, penggagas MHMMD.


1.        Apa sebenarnya Pendidikan Karakter itu?
Pendidikan karakter mengupayakan bahwa setiap peserta didik itu seharusnya memiliki seperangkat nilai-nilai moral dan kepedulian yang tinggi. Tidak hanya itu, saling menyadari diri sebagai manusia yang seharusnya mampu menjalin hubungan yang baik kepada sesama manusia, juga kepada sang pencipta. Tapi kata kuncinya sebenarnya adalah saling mengingatkan pentingnya kesadaran diri yang mengajarkan

2.        Seberapa penting pendidikan karakter ini untuk seorang mahasiswa?
Kalau ditanya penting tidaknya, jelas bahwa yang kita lakukan saat ini adalah sesuatu yang memiliki manfaat yang besar. Namun, sebaiknya pendidikan karakter ini sudah ditanamkan kepada mahasiswa sejak masih usia dini agar karaker-karakter menbangun dapat menjadi pembiasaan bagi mahasiswa.
Selain itu agar mereka tidak hanya unggul dalam akademik saja, tapi juga dari segi kemampuan yang berorientasi pada perencanaan masa depan.  Sejauh yang saya amati saat ini mereka memiliki integritas yang tinggi dan dalam waktu singkat mereka telah selesai akan menjadi orang-orang hebat di bidangnya masing-masing, juga memiliki integritas sebagai modal karakter.

3.        Bagaimana bentuk pendidikan karakter yang sebaiknya diterapkan bagi mahasiswa di setiap kampus?
Banyak cara, salah satu cara yang kita sampaikan kepada mahasiswa, bagaimana mereka mampu mengubah pola pikir. Sehingga dalam waktu singkat mereka telah memiliki perencanaan masa depan yang akan memberi banyak manfaat kepada masyarakat. Seperti itulah yang kami sampaikan kepada mahasiswa. Kita berupaya untuk menanamkan jiwa-jiwa sosial kepada mereka agar tidak terkesan apatis terhadap orang-orang sekitar.
Dari pola pikir yang berkembang dan kian matang kita berupaya agar itu tak goyah. Untuk itulah perlu ada pembiasaan minimal dalam jangka waktu 40 hari dan selama itu kita akan terus pantau. Salah satu hal yang penting dan patut menjadi pembiasaan, bagaimana agar mereka taat beribadah dan berusaha mendisiplinkan diri dalam hal kerohanian. Mungkin tidak banyak orang mengetahui hal ini, bahwa dengan melakukan salat tepat waktu, dan sebisa mungkin meluangkan waktunya beberapa menit saja untuk membaca kitab suci, secara tidak langsung kita belajar manajemen waktu dan disiplin diri.

4.        Apa sebenarnya yang membedakan pendidikan karakter dengan pendidikan pada umumnya yang biasa diajarkan di sekolah-sekolah atau di kampus?
Di sekolah kita diajarkan kompetensi teknis, misalnya ilmu yang disesuaikan dengan konsentrasi bidangnya masing-masing. Nah kalau pendidikan karakter ini lebih kita namakan sebagai ilmu hidup dan ini menjadi alat bagi perencanaan hidup ke depannya. Bukan hanya sekadar ilmu tapi  membutuhkan pelaksaan yang baik dan benar. Lakukanlah sesuatu dengan memberi makna pada setiap yang kita kerjakan

5.        Kenapa pendidikan karakter ini terkesan lamban?
Karena Indonesia masih terbilang  baru mengenai hal ini. Tahun 2010 lalu, kita baru saja mengadakan pelantikan terkait adanya pendidikan karakter. Kita mungkin baru saja mencontek dari negara tetangga yang sudah menjalankannya beberapa tahun lalu. Namun bukan berarti kita tidak dapat mengungguli mereka dari segi pendidikan.

6.        Bagaimana manfaat pendidikan karakter ini bagi mahasiswa sendiri?
Sangat bermanfaat, pendidikan karaketer ini mengajak kita untuk bekerja sama, mengakrabkan diri dengan yang lain, dan menghindarkan kita untuk bertindak hanya dengan Ke-aku-an. Pendidikan karakter ini mungkin hanya kedengarannya biasa saja, namun manafaat yang kita peroleh sangatlah luar biasa. Dengan memiliki karakter sebagai seorang yang akan peduli dengan lingkungan sekitar.

7.        Bagaimana respon setiap kampus?
Alhamdulillah sangat luar biasa, selain itu mahasiswa juga antusias dengan kegiatan ini. Setelah bertemu dengan beberapa alumni, mereka mempertegas sendiri bahwa pendidikan karakter ini sangat penting. Kita jauh lebih bisa memaknai arti pentingnya hidup. Kita berjalan tidak hanya pada ranah perkuliahan bagi mahasiswa di kampus, juga terkadang ada instansi pemerintah setempat meminta untuk diadakannya kegiatan sosiaisasi, seperti BUMN.
Memiliki peta hidup menjadi salah satu dari tujuan diadakannya kegiatan sosialisasi pendidikan karakter. Mereka mampu menggali potensi yang mereka miliki, melihat setiap peluang yang ada sebagai sesuatu yang memiliki manfaat tidak hanya bagi diri sendiri namun juga bagi orang lain.

8.        Apa yang mendasari perlunya pendidikan karakter ini?
Saya belajar dari masa lalu, saya kan alumni Unhas, pendidikan S1 di Unhas, tetapi saat lanjut S2 dan S3 di American University. Saya melihat banyak perbedaan yang pada dasarnya sebenarnya mampu kita miliki. Orang di sana betul-betul memanfaatkan waktu yang ada sekali pun hanya beberapa menit. Selalu meluangkan waktunya untuk membaca. Bagaimana mereka selama delapan jam mengikuti perkuliahan dan mereka memang fokus.
Membuat kelompok belajar, terjun ke masyarakat, magang, kerja dan memang waktu itu betul-betul terisi. Tidak adalagi waktu yang terbuang begitu saja. Tertib, jika di Indonesia juga mampu mengaplikasikan ini maka akan makmur negara kita sebenarnya. Kalau melihat kehidupan orang luar negeri atau negara tetangga dari segi ilmu pengetahuan, mereka lebih beruntung.
Dengan taat beribadah dan membaca kitab suci, secara tidak langsung mengajarkan kita tentang disiplin waktu juga bagaimana menghargai setiap detik waktu itu. Indonesia akan memimpin peradaban dan target kita adalah 2045. Indonesia yang memiliki nilai-nilai agama yang bagus mematuhi dan menjalankan semua ibadah itu baik. Merekalah yang nantinya akan memegang tampuk kepemimpinan yang tidak hanya cerdas, tapi memiliki karakter yang berbasis kepada nilai-nilai agama dan budaya
9.      Apa yang diharapkan setalah adanya pendidikan karakter ini?
Mereka mampu memaknai hidup dan melakukan yang terbaik dengan memiliki peta hidup dan perencanaan masa depannya. Mereka juga punya cita-cita yang ingin dibangun di atas pondasi hidup yang lebih kuat. Tidak semua orang bisa memperoleh pendidikan karakter ini, maka dari itu bagikan dan sampaikan juga kepada teman-teman dan saudara-saudara kita yang kurang beruntung dari segi ekonomi.

DATA DIRI
Nama : Marwah Daud Ibrahim
Tempat Tanggal Lahir : Soppeng, 8 November 1956
Pendidikan : Sarjana Fakultas Ilmu Sosial Politik, Jurusan Komunikasi Universitas Hasanudin
(1981) Master Komunikasi Internasional American University, Washington DC, Amerika
Serikat (1982) Doktor Komunikasi Internasional American University, Washington DC, Amerika Serikat (1989)

No comments:

Post a Comment