![]() |
| by google |
Makassar
2 Juni 2013
Perlahan sore beranjak dari
peraduan, mulai digantikan dengan senja yang lahir dari kebangkitan malam. Di
dalam ruangan yang tak lebih luas dari kamar mewah, aku duduk bersila memandang
tajam ke arah layar kaca yang berukuran 14 inci. Gambar yang bergerak gerak
dilengkapi audio yang mulai kedengaran nyaring menambah sempurnanya soreku hari
ini.
Jam di telepon genggamku
menunjukkan 18.17 wita ketika aku memperhatikan pemberitaan yang disajikan
salah satu stasiun televisi. Ini bukan gosip tentang Asyanti dan Anang, atau
cerita tentang Eyang Subur versus Adi Bing Slamet yang beberapa minggu terakhir
marak diberitakan. Tapi, ini mengenai nasib bangsa yang sebentar lagi akan
menemui masa kehancurannya.
Bagaimana tidak? Seorang
politisi dari Partai islam terang-terangan terangkap basah membagi bagikan uang
korupsi kepada beberapa perempuan. Padahal, Partai Islam yang disangka memiliki
kader yang paham tentang nilai nilai luhur Islam, yang khatam mengenai moralitas
ummat, malah kadernya boleh dikata tidak mempraktekkan nilai luhur itu, apalagi
tentang moral.
Beberapa hal yang mungkin
menjadi PR bagi bangsa. Pertama, Agama
bukan menjadi identitas yang akan membedakan antara manusia keji dan manusia
berbudi pekerti. Sering kali kita menemukan judgement
dari kebanyakan orang, bahwa semakin baik agama seseorang maka semaikn baik
pula akhlaknya. Yang menjadi catatan di sini adalah “semakin baik agama”, lalu
dengan cara apa kita ingin menilai baiknya agama seseorang?
Pertanyaan ini sering kali
mengantarkan kita kepada penilai yang sangat empirik. Katanya, orang yang sholatnya rutin lima kali sehari, puasa
penuh di Bulan Ramadhan dan menyantuni kaum fakir adalah tolak ukur untuk
menghukumi seseorang dengan predikat “agama yang baik”. Lantas, apa jadinya
ketika orang yang kita tuduhkan memiliki agama yang baik itu hanya menampilkan
hal yang utopis, memperlihatkan kepura-puraan? Matilah kita, diperbudak oleh
kebodohan yang dibodoh-bodohkan.
Intinya, penilaian empirik
bukanlah menjadi ukuran untuk menilai seseorang karena Islam bukanlah Agama
yang hadir dengan keimanan yang empirik.
Kedua,label Islam tidak serta merta membuat kita jauh percaya
kepada partai atau komunitas yang menjadikan islam sebagai objek yang dipasang
pada sebuah nama komunitas tersebut. Apa jadinya, ketika nama Islam hanya
dijadikan sebagai pancingan untuk mengajak banyak orang agar bergabung ke dalam
sebuah komunitas tersebut? Lagi-lagi, jangan terkeco dengan label Islam,
telusuri lebih mendalam dan cari tahu apa dan siapa komunitas tersebut.
Ketiga, yang tak kalah pentingnya adalah berpengetahuan. Dengan
pengetahuan kita bisa membedakan mana yang pantas mendapatkan predikat islam
dan mana yang mendekati atau masih jauh dari kepantasan.







No comments:
Post a Comment