Sunday, June 2, 2013

Mengapa Islam?


by google

Dengan peluh dan keringat kubawa lipatan lipatan kertas yang kutaruh dalam sebuah map merah. Berpindah dari satu perusahaan ke perusahaan lain, tak menghasilkan apa-apa, kecuali debu yang mulai menebal di wajah yang dulunya berwarna kuning langsat sekarang mulai menghitam, sehitam impianku yang mulai kukubur dalam dalam. Berkelana dengan motor butut peninggalan ayahaku yang ia peroleh dengan menjual sawah warisan nenek menjadi kebiasaanku selama setahun penuh.
                Hampir setahun sudah aku memeroleh gelar sarjana, tapi tak satupun juga perusahaan yang ingin menerima lulusan universitas swasta sepertiku ini. Berbagai macam cara telah kucoba agar diterima di sebuah perusahaan, mulai dari memohon ke kerabat dan membiarkan diriku dihina, tapi usaha itu tak juga membuahkan hasil.
                Bahkan, suatu waktu keinginan untuk mati saja pernah kucoba. Di dalam kamar kost aku terbaring tak berdaya, hanya keluh dan hujatan yang keluar dari mulutku kala itu. Ketika pagi aku berangkat menuju Jalan Sepakat dengan motor butut yang suaranya mulai bising dan sesekali menarik perhatian pak polisi. Dengan modal sarjana dan map merah yang senantiasa menemaniku, aku masuk ke sebuah perusahaan swasta yang katanya sedang mencari pegawai.
                Aku melihat aktivitas yang sibuk, puluhan orang lalu lalang ke sana ke mari, ada yang berjalan sembil berbicara dengan telepon ditaruhnya di telinga, ada juga yang duduk sembari bercakap cakap dengan kawannya. “Siang pak, ada yang bisa saya bantu?” tanya seorang gadis yang mengenakan pakaian rapi dan rok di atas lutut. Dengan sigap kujawab pertanyaannya tadi, “maaf mba’, di sini sedang buka lowongan kerja yah?” pertanyaan yang hampir puluhan kali kutanyakan kepada resepsionis perusahaan.
                “Iyya pak, boleh saya liat riwayat hidupnya?” tanyanya lagi. Ucap syukur tak henti-hentinya kulantunkan dalam hati. “kapan yah aku mulai masuk kantor? Mungkin saja besok atau lusa?” aku mulai berangan-angan. “Maaf pak, kami tak menerima pegawai muslim di sini, trima kasih,” katanya setelah beberapa menit melihat lembaran kertas yang berisi riwayat hidup dan surat permohonan lamaran kerjaku.
                Aku tersentak ketika mendengar katanya tadi, tiba tiba aku seperti sedang terkena sengatan listrik. “Jaman sekarang masih ada yang tak menerima toleransi beragama? Kok bisa?” pertanyaan pertanyaan mulai muncul di benakku, tak habis pikir di era modern yang katanya menjunjung tinggi pluralitas seperti sekrang masih saja ada menerima perbedaan karena berlatar agama.
                Segera kutancapkan gas, kusetir motorku menuju arah jalan pulang. Sesampai di kamar yang ukurannya tak seluas kamar mewah di hotel hotel itu, kurebahkan badan di atas kasur yang terbuat dari gumpalan kapuk keras, kutatap langit langit kamar, kurenungkan kejadian yang baru saja kualami. “jika saja aku tak beragama islam, mungkin sebentar lagi aku menerima gaji bulanan, mengenakan seragam kantor tiap hari, dan bergabung bersama pegawai lain menikmati makan siang di kantin kantor,” keinginanku dalam hati.

                Ada apa dengan agama, mengapa agama seperti menjadi hal yang menghalangiku untuk mendapatkan pekerjaan layak. Seketika aku memikirkan di masa kepresidenan Gus Dur yang semua orang tak perlu khawatir lantaran perbedaan agama. Gus dur adalah sosok yang dikenal sebagai penyelamat pluralitas di Indonesia. Pikiranku akhirnya mengantarakanku pada keinginan tak beragama. “Perbedaan apa yang akan kudapatkan jika aku memilih tak beragama?” tanyaku dalam hati.
                Islam, agama yang kuyakini sejak aku masih berada dalam kandungan, agama yang mayoritas dipeluk oleh warga Indonesia. Islam, agama yang kitab sucinya adalah Al-Quran. Terima atau tidak, Islam adalah agama yang kuyakini karena kedua orang tuaku, Islam adalah pilihan yang tak membiarkanku memilih agama lain. Aku bahkan baru sadar jika ada agama lain selain islam, ketika duduk di bangku kelas enam SD.
                Hingga saat ini, aku tak pernah menanyakan kepada kedua orang tuaku, mengapa mereka memeluk Agama Islam, sekalipun aku bertanya aku takkan mungkin mendapatan jawaban yang tepat, pasalnya kakek dan nenekkupun juga memeluk agam islam. Aku terus saja melakukan ritual dan kebiasaan dalam Islam tanpa pernah menanyakan mengapa aku melakukan itu.
                 Untuk apa aku sholat, berpuasa di Bulan Ramadhan, dan sampailah aku dipertanyaan yang paling membuatku tak mampu lagi berkutik, siapa itu Tuhan? Pertanyaan pertanyaan ini tak pernah kutanyakan ketika masih berada di bangku sekolah.
                Lamunanku itu tiba tiba dihentikan dengan suara adzan, aku bergegas menuju masjid, kuraih segera Al-Qur’an dan menentengnya ke arah masjid, tak perlu berjalan jauh, aku akhirnya tiba di masjid. Satu persatu orang masuk, dan tentu saja mereka mengajakku untuk menyegerakan diri agar bergabung untuk sholat. Tapi tidak, kali ini aku tidak bermaksud untuk ikut sholat berjama’ah. Ketika beberapa shaff terlihat secara berjama’ah melakukan gerakan yang sama, aku tetap saja sibuk dengan kitab yang tiap lembaran-lebaran kubolak-balik.
                Setelah sholat, satu persatu keluar dari masjid meski dengan tatapan aneh mereka kepadaku, aku terus saja meneruskan aktivitas. Kuperhatikan ke dalam masjid, tak ada seorangpun kecuali imam masjid. Segera kuhampiri beliau dan tanpa basa basi aku mulai menanyakan beberapa hal.
                “Pak ustad, maaf mengganggu, saya ingin menanyakan beberapa hal,” sahutku. “silahkan,” katanya sembari menawarkan senyuman. “Pak, Tuhan berada di arah kiblat yah?” pak ustad yang tadinya hanya senyum, tiba tiba tampil dengan raut wajah keheranan, “Ada apa kamu ini nak?” tanyanya dengan nada kaget, “Jawab saja pak!” pintaku.
                Lalu, ia segera mengambil Al-Qur’an yang tadinya kupegang, terlihat ia sibuk mencari-cari, membuka halaman demi halaman, beberapa menit kemudian. “Nah, ini dia,!!!” tangkasnya. “Coba perhatikan ayat ini, nak. Surat Thaahaa ayat 5 dan surat Al A’raaf ayat 54, di sini jelas-jelas membuktikan bahwa Tuhan berada di atas Arsy, jelaskan keberadaan Tuhan?” lengkapnya sambil menyodorkan kembali Al-Qur’an yang baru saja dipegangnya.
                Arsy ituberada di mana?”, tanyaku lagi.  “Arsy itu berada di atas langit,” jawabnya tegas. “kalau Arsy berada di langit, mengapa sholatnya tak menghadap ke langit saja?”, “Islam itu mudah, maka jangan dipersulit,” jawabnya. “”kalau begitu tidak usah sholat, tanpa sholat bukannya menjadi Islam malah tambah mudah?” pertanyaan itu berlalu begitu saja ketika ia pergi tanpa permisi dan meninggalakanku bersama kebingunan yang kuciptakan dari jawaban-jawaban yang kudapatkan.

No comments:

Post a Comment