Makassar,
19 Juni 2013
![]() |
| by google |
Sore ini aku tak menghabiskan waktu
banyak di luar, hampir 24 jam aku hanya berada di dalam kamar. Sembari
merapikan kamar yang sejak pagi tadi berantakan oleh bungkusan makanan, aku tak
lupa menyalakan televisi yang kupasang tepat di depan kasur tidurku.
Kuperhatikan dengan saksama sebuah stasiun TV yang menayangkan program “Orang
Pinggiran”.
Program
tersebut menampilan seorang bocah yang kini duduk di kelas V SD. Seketika
melihat bocah tersebut, tak ada yang berbeda dari anak-anak seusianya, kecuali
pakaian batik yang ia gunakan. Siapa yang menyangka jika batik yang digunakan
Afrizal adalah batik yang sama yang digunakannya sejak kelas II SD, hampir
empat tahun sudah anak bungsu ini menggunakan batik sekolahnya. Tidak salah,
jika pakaian bercorak biru itu terlihat kecil pada tubuh yang tentu saja terus
berkembang.
Tidak
hanya pakaian yang menjadi objek penglihatan ketika melihat anak bungu dari dua
bersaudara ini, sepatu dan tas sekolahnya juga begitu memprihatinkan. Bagian
depan sepatunya itu terlihat sobekan yang tidak kecil, ditambah goresan jahitan
tangan di pinggiran kiri dan kanan sepatu. Tidak hanya itu, tas yang digunakannya tiap hari juga menarik
perhatian, bukan karena corak dan warnanya yang memukau, melainkan tambalan
tambalan kain yang menempel di beberapa sudut tas.
Kehidupan
Afrizal sangat menyedihkan, namun Ia hidup bukan tanpa orang tua atau terlahir
dari keluarga yang lepas tanggung jawab dan membiarkan Afrizal hidup sebatang
kara. Tapi, kedua orang tua Afrizal juga kini sedang berjuang keras melawan
pahitnya kemiskinan. Ayah Afrizal adalah seorang pria yang bertanggung jawab,
hari harinya hampir dihabiskan di kebun tetangganya untuk mencari bambu yang ia
gunakan untuk membuat keranjang yang lalu dijualnya demi memenuhi kebutuhan
hidup Afrizal dan istrinya.
Meski
mengalami keterbatasan fisik, tak mengurangi semangat sang ayah untuk terus
bekerja di usianya kini yang tak lagi
muda. Begitupun dengan sang ibu yang mengisi hari-harinya di kebun cabe milik
tetangganya. Jika masa panen tiba, ia diajak untuk membantu pemilik kebun
memanen hasi kebun, dari sinilah ia kemudian diberi upah kerja. Jika beruntung,
tak jarang pemilik kebun atau tetangga rumah memberikan sedikit jagung yang
kemudian dijadikan makanan pengganti nasi. Mengapa? Alasannya jelas, harga
beras sulit dijangkau oleh kantong rakyat sekelas ibu Afrizal.
Afrizal
hanyalah salah satu dari sekian banyaknya anak yang harus merelakan masa
kecilnya untuk mengais rezeki agar tetap bertahan hidup. Lantas, bagaimana
dengan kita hari ini? Tak sedikit dari kita, bahkan akupun seperti itu, banyak
menghabiskan waktu untuk mengeluh karena kekurangan banyak hal. Sangat jarang
aku mengucap syukur dengan apa yang kumiliki saat ini. Padahal, di luar sana
masih banyak Afrizal lainnya yang untuk makan saja susah, tapi tetap mampu
mensyukuri, nikmat apapun yang Tuhan beri. Tapi, mengapa kita begitu sangat
serakah? Ingin ini, itu dan sana.







No comments:
Post a Comment