![]() |
| by google |
Senja
mulai memperlihatkan warna keemasannya dan tak tahu juga tiba tiba kau berkata
“betapa indahnya langit.” Kita saling menatap ke awan, mendesah dalam hati dan
membuat diri takjub dengan keindahan hari itu. “Mengapa tak kau katakana saja
sayang?” pintaku dalam hati. Kau tak bersuara, hanya suara nafas yang sesekali
kudengar.
Sembari
menatap awan, seperti tak ingin melewatkan sore itu, meski hanya diam yang
menemani kita. Tapi, itu tak membuat ragu. Kau mulai membuka pembicaraan,
kudengar betapa takjubnya kau dengan kolong langit itu. “Di sana, bersemayam
para dewa dan aku akan menunggu dewa keluar dari peraduan, keluar lewat kolong
langit,” jelasmu.
Baru
saja kau mengatakan akan menunggu turunnya dewa melewati kolong langit. Andai
kau tahu, betapa inginnya aku menemanimu menunggu bersama dan menyaksikan
kolong langit terbuka lebar, bahkan hingga ribuan tahun.
Senja
mulai kembali ke peraduan dan perlahan kita tak lagi mampu menyaksikan langit
dengan biru awannya. Aku menatapmu lamat lamat dan kau membalas tatapan itu,
dingin dan tak bernyawa. Perlahan tanganku merasakan hawa kehangatan tanganmu,
mulai menyejukkan dan darah dingin serasa mengalir ke pembuluh darah.
“Aku
ingin selalu menyaksikan senja ditemani kolong langit dan menunggu turunya
dewa, hanya bersamamu,” katamu. Dengan sigap segera kulingkarkan kedua tanganku
ke pinggangmu, kaupun membalas dengan perlakuan yang sama.
Tak
lama kita larut di kegelapan malam, hingga udara dingin mulai menusuk ke
tulang. Gemercik hujan mulai terdengar,
“bahkan alam rayapun merestui kita,” selamu. Kupandangi wajahmu dan kujawab
dengan senyuman, “aku merindukan senyuman menawan itu,” tambahmu. “bagaimana
jika akau tak mampu lagi tersenyum?” kau menjawab “kalau begitu biarkan aku
yang tersenyum, hingga membuatmu kembali tersenyum,” jawabmu.
Deru
ombak tak membuat kita karam dalam lamunan cinta, malah semakin memperteguh
indahnya terjal kehidupan jika bersamamu. Erat tanganmu sungguh menentramkan
hatiku saat itu juga, hingga larut dalam kepingan episode kita malam itu.
Sungguh,
malam itu hanya kita berdua.







No comments:
Post a Comment