Di
sini, gigil dan kemarau suka bergantian. Seminggu sebelum aku dan agam membeli
selimut, kami sama-sama membenci malam. Tapi, mungkin agam menikmati gigilnya
malam di Bakti, sebab Ia suka ditelpon oleh kekasihnya di Palangkaraya.
Jika
malam semakin larut, gigilnya juga akan semakin menggelayut. Aku sering
dibangunkan oleh gigil itu. Sekarang, setelah aku dan agam membeli selimut,
dinginnya mulai teratasi. Tapi, panas dan kemaraunya yang kadang membuat kami lebih
digigil rindu ingin pulang.
Sejak
penempatan, hingga hari ini, yah, sudah sebulan kami di Gorontalo. Aku tak
pernah kelaparan di sini, tentu itu yang membuat kami betah. Tapi, orang di
luar sana tentu juga masih banyak yang kelaparan.
***
Setiap
pagi tetangga sebelah suka datang ke rumah kami, ia membawa anaknya yang kecil,
paling bungu, Nisa namanya. Aku tak bisa memastikan umurnya, tapi sekarang Ia
sekolah di Taman Kanak-Kanak. Selama di sini, mungkin cuma dua kali aku
melihatnya berangkat ke sekolah. Selebihnya, Ia berada di rumah atau ikut
bermain bersama temannya. Ingin sekali rasanya kuteriaki, “Ayo Nisa, ke sekolah
sana.”
Orang
tua Nisa, satu dari beberapa orang tua lainnya yang tak begitu memedulikan
pendidikan. Jika berjalan ke dusun-dusun, aku sering menemukan orang tua yang menikahkan
anaknya di umur 14 tahun dan setelah itu putus sekolah. Setelah menikah, ada
yang ikut jadi petani, tukang ojek atau bentor dan buruh.
Aku
jadi ingat masa kecilku, ketika ibu akan memukul aku dan adik-adikku jika malas
ke sekolah. Hingga suatu hari, saking malasnya ke sekolah, aku harus
berpura-pura sakit perut dan menangis. Ibu tentu saja percaya. Ah, ibu, aku
sangat merindukanmu.
Ibu, di sini lebih dingin dari kampung kita
Benar katamu dulu, aku harus belajar mencintai dapur
Tapi, ibu jaga kesehatan yah di sana, beristirahatlah sebentar, jika
kamu mulai lelah di dapur
Jika pulang nanti, aku akan menemanimu memasak
dan mengolah tepung bersama






No comments:
Post a Comment