Saturday, November 8, 2014

Bakti

Di sini, gigil dan kemarau suka bergantian. Seminggu sebelum aku dan agam membeli selimut, kami sama-sama membenci malam. Tapi, mungkin agam menikmati gigilnya malam di Bakti, sebab Ia suka ditelpon oleh kekasihnya di Palangkaraya.
Jika malam semakin larut, gigilnya juga akan semakin menggelayut. Aku sering dibangunkan oleh gigil itu. Sekarang, setelah aku dan agam membeli selimut, dinginnya mulai teratasi. Tapi, panas dan kemaraunya yang kadang membuat kami lebih digigil rindu ingin pulang.
Sejak penempatan, hingga hari ini, yah, sudah sebulan kami di Gorontalo. Aku tak pernah kelaparan di sini, tentu itu yang membuat kami betah. Tapi, orang di luar sana tentu juga masih banyak yang kelaparan.
***
Setiap pagi tetangga sebelah suka datang ke rumah kami, ia membawa anaknya yang kecil, paling bungu, Nisa namanya. Aku tak bisa memastikan umurnya, tapi sekarang Ia sekolah di Taman Kanak-Kanak. Selama di sini, mungkin cuma dua kali aku melihatnya berangkat ke sekolah. Selebihnya, Ia berada di rumah atau ikut bermain bersama temannya. Ingin sekali rasanya kuteriaki, “Ayo Nisa, ke sekolah sana.”
Orang tua Nisa, satu dari beberapa orang tua lainnya yang tak begitu memedulikan pendidikan. Jika berjalan ke dusun-dusun, aku sering menemukan orang tua yang menikahkan anaknya di umur 14 tahun dan setelah itu putus sekolah. Setelah menikah, ada yang ikut jadi petani, tukang ojek atau bentor dan buruh.    
Aku jadi ingat masa kecilku, ketika ibu akan memukul aku dan adik-adikku jika malas ke sekolah. Hingga suatu hari, saking malasnya ke sekolah, aku harus berpura-pura sakit perut dan menangis. Ibu tentu saja percaya. Ah, ibu, aku sangat merindukanmu.
Ibu, di sini lebih dingin dari kampung kita
Benar katamu dulu, aku harus belajar mencintai dapur
Tapi, ibu jaga kesehatan yah di sana, beristirahatlah sebentar, jika kamu mulai lelah di dapur
Jika pulang nanti, aku akan menemanimu memasak dan mengolah tepung bersama

No comments:

Post a Comment