English
Vinglish, sebuah film India yang diperankan oleh Saridevi. Saya tak begitu
mengetahui artis India ini. tapi, sewaktu kecil, ketika film-film India mulai
meramaikan layar kaca Indonesia, tengila saya suka diramaikan dengan nama itu, mungkin
saya pernah mellihatnya berperan pada film-film lawas India, tapi saya sudah
melupakan wajahnya, tentunya dia perempuan yang manis.
Pada
film berdurasi dua jam lebih itu, maaf
saya tak begitu memperhatikan waktu ketika menonton film itu, tapi saya jelas
mengingat berapa lama saya menghabiskan waktu waktu di depan layar laptop. Saya
lanjutkan lagi, sebelum saya benar-benar larut dalam cerita yang tak begitu
penting untuk saya sampaikan.
Film
itu, menceritakan tentang seorang ibu dua anak sekaligus istri dari suami
kantoran. Namanya, Shashi, wajahnya manis dan air mukanya meneduhkan, nontonlah
fimnya bila tak percaya. Ia perempuan kampung yang dinikahi oleh seorang lelaki
kota, perempuan yang sehari-harinya mengenakan pakaian tradisional India ini tak
begitu fasih berbahasa Inggris, kenapa bahasa Inggris? Yah, cerita filmnya
seperti itu, seorang ibu yang tak tau berbahasa Inggris, lalu ke New York dan
selama tiga minggu di sana, Ia mengikuti kelas bahasa Inggris.
Tapi,
film ini tidak hanya menceritakan tentang ketidak mampuan dan usaha seorang
perempuan agar fasih berbahasa Inggris. Pada film ini, hal yang paling ingin
ditunjukkan adalah kondisi perempuan yang dipaksa menerima bahwa kodratnya
hanya berada di dapur dan kasur.
Shashi,
seorang perempuan yang juga berjualan Ladoo, makanan khas India yang berbentuk
bulat dan berwarna kuning. Suatu waktu, shashi dan suami sedang asik makan di
rumah, dalam sebuah pembicaraan suaminya tiba-tiba meminta shashi untuk
berhenti berjualan Ladoo, Shashi jelas menolak, “aku hanya punya satu
keinginan, dan kau ingin mnghentikannya juga,” begitu kata shashi kepada
suaminya.
Jika
semua lelaki sepeti suami shashi, apa yang akan terjadi pada generasi yang akan
datang. Semua perempuan tak dibolehkan bersekolah, tak boleh mendapatkan
kehormatan. Saya pernah membaca sebuah paragraf, mungkin ditulis oleh seorang
wartawan yang mengutip perkataan Dia Sastro, aktris Indonesia. Katanya,
“seorang perempuan, entah akan menjadi ibu rumah tangga atau berkarir berhak
menjadi perempuan yang cerdas dan kelak melahirkan keturunan yang cerdas pula.”
Saya
pikir, kalimat itu, sinkron dengan sebuah penelitian kesehatan yang pernah saya
baca di sebuah media online. “kecerdasan seorang anak sebetulnya diwariskan
dari ibunya, bukan ayahnya,” kalau tak salah, begitu redaksinya. Tentunya, hal
ini menjadi pukulan semangat bagi para perempuan agar tak membatasi diri untuk
belajar. Belajar tak hanya di dalam kelas dan membaca tak hanya lewat buku.






No comments:
Post a Comment