![]() |
| by google |
Suara
langit dipenuhi dengan dentuman senjata, awan berganti dengan gumpalan yang
menghitam dan sesekali terdengar letusan kembang api. Langit menjadi ramai hari
itu, di bawah langit orang-orang bak semut berkerumun yang berantakan karena setitik
air. Hujan datang memenuhi kerinduannya kepada tanah-tanah kering karena
pendosa.
Satu
persatu datang silih berganti, berlarian sambil menutup hidung. Wajah-wajah
mereka sengaja dibedaki odol, katanya agar mata tak perih terkena gas air mata.
Saya berada di antara kerumunan semut, menjadi semut, lalu ikut berhamburan
dengan semut-semut lain. Saya memanggil satu persatu semut untuk ikut
bersembunyi di bawah lorong rumah semut yang baru saya kenal hari itu.
Tak
ada yang bisa saya bicarakan kepada sore yang sebentar lagi berganti dengan
malam, senja meninggalkan kami dalam rintik hujan. Seseorang datang
menghampiri. Katanya, saya dan yang lain harus tetap bersembunyi di bawah
rumah, “di luar berbahaya, polisi sedang mencari mahasiswa,” jelasnya dengan nafas
yang terengah-engah.
Mulut
mulai komat-kamit, batin tak keruan, dan tubuh menggigil oleh guyuran hujan
yang sejak siang membasahi pakaian kami. Tak ada yang tersisa, kecuali
ketakutan yang hinggap dan menambah deretan do’a yang kami panjatkan.
Seseorang
tiba-tiba berlari ke arah kami, berhenti sejenak, lalu menuju pagar dan
melompat, ia lantas menghilang di kegelapan malam. Seseorang yang lainnya
datang dan tergesa-gesa, memegang pistol dan memakai topi. Ia meneriaki kami,
lantang dan seolah-olah menyampaikan simbol bahwa ia adalah pihak kepolisian.
Ia mencari orang yang lebih dulu datang lalu menghilang itu, tak ada yang
mengeluarkan suara, hanya terdengar degupan jantung yang ikut tergesa-gesa. Ia
yang menggenggam pistol di tangannya tadi pergi bersama kekesalannya, kami lalu
menceritainya.
Di
luar, jalan masih ramai, lampu kendaraan memenuhi malam itu, juga polisi dengan
senapan panjang di tangan kanan, yang sudah berkali-kali menghantam siapa saja
ditemuinya. Selama tujuh jam kami berada dalam ketakutan, kami menahan perut
yang lapar, yang hanya di isi makan sejak pagi tadi, selamat, itu yang berharga
bagi kami sekarang.
Kami
lantas memberanikan diri keluar dari kolong rumah. Di luar tak seramai sore
tadi, kata seseorang di antara kami, saya ikut bergegas dari tempat itu.
Tiba-tiba saya mendapati motor yang sengaja dibuang ke parit oleh polisi.
Untung saja, beberapa warga membantu mengangkat kendaraan roda dua itu, “itu
motorku,” kata seseorang.
Motor
itu sadelnya sengaja dicabik dengan sangkur, bannya ditusuk juga dengan
sangkur, kacanya pecah dan tubuh motor
itu meninggalkan garis-garis. “Di sana masih ada dua motor yang dibuang oleh
polisi,” kata seseorang.
Yang
lain mulai geram saat polisi hanya tertawa sambil bersiul-siul menggoda
perempuan yang bergantian lalu lalang di hadapannya. Seseorang meminta tolong
kepada polisi, tapi si polisi tak mengindahkan, katanya mereka capek. Padahal,
kata Negara, polisi bertujuan untuk mengayomi warganya. Tapi, sudahlah, ini Indonesia. Jangan
membayangkan pemerintah, polisi, tentara, birokrat akan mendengarkan suara
rakyat.







No comments:
Post a Comment