
Makassar - Hari
ini, sepertinya saya harus tercengang, kaget, bungkam dan terkejut dengan
sebuah novel yang dikarang oleh Jostein Gardeer. Dia cukup lihai dalam
menghasilkan kalimat demi kalimat yang disusun dari kata kata yang cukup nakal.
Namun, hal yang substansial dari buku ini sebenarnya, bukan soal siapa si
penulis, tapi apa yang ditulis.
Kadang, berpikir mengajak kita untuk berada di dunia yang
gelap, membayangkan sesuatu atau sesosok, atau apapun itu. Berpikir, seperti
halnya mencerna kata demi kata atau hasil realitas yang baru saja kita
saksikan. Namun, pernahkah kita berpikir dengan apa kita berpikir??? Lalu, apa itu
berpikir???
“Akal”, kata ini sepertinya bukan hal yang baru untuk kita
dengarkan. Lalu, benarkah kita berpikir dengan akal?? Seperti apa akal itu?? Di
mana keberadaannya?? Benarkah di dalam otak??
Berbicara soal akal sebetulnya hanya sebagai pengantar untuk
perbincangan kita selanjutnya. Pernah dengar Socrates, Plato dan Aristoteles?
Mungkin, kamu salah satu dari ribuan orang yang belum pernah mendengar nama
mereka, atau mungkin kamu pernah mendengar atau sekadar membaca dari buku buku
nama mereka tertera dalam sebuah cerita novel, filsafat atau dalam buku yang
menjelaskan tentang sesuatu yang sangat mendasar. Mungkin juga kamu sama
seperti saya, yang sedang jatuh cinta dengan ketiga sosok itu??? Entahlah, itu
cukup Anda saja yang tahu.
Awalnya, saya hanya mendengar sepintas nama mereka,
mendengar nama mereka disebut sebut dalam perbincangan filsafat. Dan aku tidak
suka dengan kata itu. Tapi, lambat laun, mendalami tentang filsafat atau
membaca referensi dari buku atau internet, bahkan membaca novel “Dunia Sophie”
membuatku begitu mencintai filsafat, mencintai ketiga sosok di atas.
Filsafat, mencintai kebijaksanaan. Konon, ketika Socrates
masih hidup ia begitu sangat mencintai kebijaksanan. Hingga pada suatu waktu
sesorang menanyakan kepada seorang peramal di kota Yunani. “Peramal, siapa yang
sesungguhnya yang paling bijaksana di kota ini?,” tanya seorang warga Yunani.
“Ia adalah Socrates,” jawab Sang Peramal.
Mendengar hal ini, Socrates kaget bukan kepalang. Ia
bergegas mencari tahu kebenaran dari kabar tersebut, hingga ia rela menyelinap
dan bertanya kepada setiap orang yang ditemuinya dengan pertanyaan yang
filosofis. Hingga sampai akhirnya ia berkesimpulan, “Mungkin, benar dikatakan
oleh si peramal, Akulah orang yang bijaksana,” Kata Socrates dalam hati.
Benar, Socrates adalah seorang filsuf, seorang mencintai
kebijaksanaan. Namun, ia sangat rendah hati, ia menolak dikatakan seorang
bijaksana, ia bahkan kadang memposisikan diri sebagai orang yang tolol, bodoh
dibanding kebanyakan orang.
Lain halnya dengan orang orang sophist, yang terdiri dari
kaum cerdas, bijaksana, namun mereka hanya menjadikan pengetahuannya sebagai
komoditas, memperjual belikan pengetahuan, hal ini bukan sesuatu yang salah,
benar. Namun, kaum sophist ini hanya ingin berbagi pengetahun jika ditukarkan
dengan uang atau sesuatu yang bernilai tinggi. Merekalah orang orang sophist.
Tidak hanya itu, kaum sophist bahkan melakukan doktrinisasi
terhadap petinggi petinggi Yunani pada masa itu. Mereka menanamkan ajaran yang
sangat empiris, menilai kebenaran hanya dari bisa tidaknya kebenaran itu
terindari, itulah kebenaran yang sesungguhnya.
Hal ini jelas bertentangan dengan pengetahuan yang diajarkan
oleh Socrates, Socrates yang kisah hidupnya dicatat oleh sang Murid, Plato
menjelaskan bahwa ada kebenaran yang tidak hanya bisa diindari, namun, akallah
yang mampu menangkapnya. Sedangkan kau sophist menolak adanya pengetahuan akal.
Lambat laun, petinggi Yunani yang mayoritas telah tersisipi
oleh pengetahuan empiris dari kaum sophist merasa terganggu denga keberadaan
Socrates. Pemerintahan mengira Socrates memperkenalkan dewa dewa baru yang
jelas bertentangan dengan yang diyakini oleh para kaum empiris. Akhirnya,
mereka memberikan dua pilihan kepada sang filsuf. Mati atau pergi dari kota
yunani. Demi mempertahankan kebenaran yang diemban, sang filsufpun akhirnya
memilih untuk mengakhiri hidupnya di kotanya tersebut dengan jalan meminum
racun cemara.
No comments:
Post a Comment