Tuesday, January 29, 2013

Melihat Gaarder dalam Gelas Kaca


Joestein Gaarder
Langit pagi ini agak gelap, mendung yang sudah diperlihatkan beberapa jam yang lalu mulai menumpahkan  tetesan hujan hingga membasahi tanah kering di sebuah bukit tandus nan panas. Bukan kemarahan langit ataupun tangisan seorang petani, yang meraung raung karena sudah bertahun tahun sawahnya tak dialiri air yang membuat hujan begitu derasnya turun membasahi  khatulistiwa.
Di dalam ruangan yang tidak begitu luas, aku berkutat dengan beberapa novel karya seorang penulis terkenal, Jostein Gaarder. Ia begitu lihai memainkan kata perkata hingga membentuk kalimat demi kalimat yang mengisi setiap lembaran buku yang ditulisnya. Dengan mengandalkan penalaran dan daya imajinasinya yang kreatif, ia mampu menghasilkan beberapa buku yang menyihir pembaca menjadi seorang filosofis.
Tidak hanya itu, gagasan yang dihadirkan oleh seorang Gaarder begitu luar biasa. Ia tidak hanya sekadar memikirkan sebuah ide yang pantas untuk dituliskan lalu serta merta dibuatkan novel ataupun karya fiksi lainnya, namun dengan kedalaman pengetahuan, ia mengelaborasi semua ide ide lalu mempersekutukannya dengan pengetahuan filsafat dan pengalaman yang dimilikinya.
Sepertinya, ia menggabungkan kemampuan analisa, pengalaman, dan daya kreatifitasnya untuk kemudian dibuatkan menjadi sebuah karya yang luar biasa dan tentu saja sangat fenomenal. Tidak salah, jika ribuan pembaca rela mengantri untuk mendapatkan buku karya Gaarder.
Gaarder juga dalam penulisannya kerap kali menggunakan metode penulisan yang membuat pembaca menjadi penasaran dengan buku yang ditulisnya. Bahkan buku bukunya itu dijadikan sebagai pemacu adrenalin, mengantarkan ketakutan dan ribuan tanya ke kepala pembaca, sehingga wajar saja ketika membaca buku buku Gaarder kita seolah terhipnotis dan terperangkap ke dalam sebuah labirin raksasa yang akan memaksa kita untuk menyelesaikan permainan itu sendiri.
Namun, beberapa buku yang sudah disajikan oleh ahli filsafat asal Swedia itu, acap kali membuat pembaca merasa jenuh di bagian awal penuturan penulis. Tapi, mungkin itu hanyalah salah satu siasat yang disengaja dibuat oleh penulis untuk menambah gairah pembaca dalam menangkap kata demi kata yang tertuang dalam bukunya itu.
Itulah Gaarder, namun semua hal yang saya tuliskan tentangnya, saya yakin belum cukup untuk menggambaran betapa menakjubkannya ia dalam penguasaan tulisannya. Dan saya hanyalah seorang yang sedang belajar memuat hal yang menarik dari seorang yang pernah membuat novel yang diterjemahkan ke dalam 53 bahasa dunia, novel yang mengantarnya menikmati kesuksesan yang kini digenggamnya.

No comments:

Post a Comment