![]() |
| by google |
Empiris, kata ini sudah tidak asing lagi buat kita sebagai
mahasiswa, terkhusus bagi mereka yag mengaku sebagai penggiat filsafat. Empiris
awalnya dipopulerkan oleh John Lock, seorang filsuf barat yang mengatakan bahwa
tidak ada sesuatau yang diperoleh tanpa melalui penginderaan. Beberapa kalangan
yang berasal dari lembaga ataupun seorang organisatoris acap kali menolak teori
John Lock ini, bukan karena kandungan teori melainkan siapa si pemilik teori. Namun,
dari sekian banyak yang menolak teori ini, banyak pula yang melihat bahwa teori
empirisme tidak mutlak menjadi sesuatu yang patut untuk dipersoalkan.
Suatu hari, ketika sekelompok mahasiswa
saling memamerkan tokoh tokoh yang teorinya mereka kuasai, saling debat antar
teori, seorang diantara mereka tetap kaku, terdiam, bungkam dan tak sepatah
katapun keluar dari mulutnya. Sebut saja ia adalah A, seorang yang dikenal
pendiam, dingin, bodoh dan ia juga dijuluki “yes
man” oleh teman temannya.
Di mata teman temannya, ia
hanyalah seorang pesuruh, tak ada hal yang bisa digambarkan positif darinya
oleh teman temannya, ia terus melakukan apapun yang diminta oleh orang orang
yang berada di sekitarnya, ia bahkan tak pernah memiliki keinginan apapun,
mungkin keinginannya hanyalah terlahir sebagai pesuruh, itulah dia si manusia “yes man”.
Tak ayal, mereka yang berada di
lingkungan si A memanfaatkan hal ini, menjadikan ia sebagai budak, bukan lagi
sebagai teman. A pun merasa senang dengan karakternya ini, merasakan kepuasan
yang berbeda dari teman temannya. Seperti itu yang ditunjukkan oleh A kepada
lingkungannya, meski sesekali ia dijuluki sebagai seorang pesuruh, ia tak
sedikitpun menunjukkan ketidaksenangannya terhadap sikap lingkungan kepadanya.
Begitupun dengan lingkungannya,
hanya menilai si A secara kasat mata, mengukur kemampuan A hanya seperti apa
yang ditunjukkan A kepada mereka. Namun, tanpa disadari oleh A maupun teman
temannya, A adalah seorang yang genius, ia memiliki kemampuan yang lebih dari yang
ia tunjukkan ke lingkungan maupun teman temannya, ia cerdas sangat cerdas.
Kecerdasan si A ini tak pernah nampak
di hadapan teman temannya, namun beberapa orang sedikit menyadari jika si A
memiliki sesuatu yang berbeda dari orang lain pada umumnya. Si A tak jarang
memikirkan hal yang di luar dari orang lain pikirkan, pengetahuan umum si A
juga tak dapat diragukan, A adalah seorang pembaca ulung yang lewat itu
kecerdasannya mulai teraktualkan
Perlahan A sedikit menyadari hal
ini, ia mulai banyak diam sembari merenungkan perlakuan dan sikap lingkungan
terhadapnya. Iapun menilai bahwa lingkungan sekitarnya hanyalah meniainya
secara kasat mata, secara empiris. Seperti halnya teori John Lock yang
mengatakan pengetahuan hanyalah lahir dari mereka yang memiliki indra.
A bukanlah satu satunya orang
yang mengalami diskriminasi perbuatan akibat keterbatasan pengetahuan dari lingkungannya.
Kesalahan lingkunganlah yang membuat ia terpaksa memerankan tokohnya sebagai A
si manusia “yes man”, ternilai bodoh
dan dibuat semakin bodoh karena tak diberi kesempatan seperti halnya teman
temannya yang lain.
Hal inilah yang kadang luput
dari penglihatan kita, padahal ada banyak jalan yang bisa kita susuri tanpa
hanya mengandalakan kemampuan indra, banyak cara untuk menunjukkan kecerdasan
seseorang tanpa harus mendiskriminasi karena keterbatasan pengetahuan kita.
Banyak orang yang menilai
kecerdasan hanya dari apa yang ia mampu lihat, dan mampu mendengar. Jika
seseorang seperti A tadi tidak mampu memperlihatkan kemampuannya melalui apa
yang orang lain bisa lihat dan dengar, maka jadilah ia bodoh di mata
lingkungan. Padahal pendengaran dan penglihatan kita sangatlah terbatas. Hanya
mampu menangkap apa yang disajikan oleh mata dan telinga. Padahal kemampuan
analisis, kemampuan membaca psikologis dan kemampuan melihat situasi juga
bagian dari kecerdasan yang tak selalu nampak secara empirik, dan hal inilah
yang dimiliki si A.
Setiap manusia dibekali dengan
keceradsan yang beragam, dari kecerdasan yang beragam ini ada yang teraktualkan
dan ada pula yang tidak. Ketidakmampuan untuk mengaktualkannya inilah yang
ternilai sebagai sebuah kebodohan dan kecerdasan yang teraktualkanlah yang
didefinisikan sebagai kecerdasan murni. Padahal, setiap dari kita memiliki
kecerdasan tersendiri, hanya kita yang selalu mendiskriminasi mereka dengan
menempatkannya ke sebuah museum kebodohan dan kita sengaja menjauhkan diri dari
mereka.







No comments:
Post a Comment