Makassar - Plato,
nama itu sungguh tidak asing lagi buat para pencinta filsafat. Bagaimana tidak,
Plato merupakan sosok filsuf yang terkenal dengan alam ideanya. Ia murid
Sorates yang menceritakan semua kisah gurunya itu ke dalam buku. Socrates
memiliki kisah hidup yang sangat tragis, hal ini dapat diketahui berkat sang
murid yang menuangkannya dalam bentuk buku, Socrates Apologi, Dialog Socrates
dan berbagai judul buku lainnya, ia sangat berjasa di dunia filsafat.
Melalui Platolah pemikiran Socrates, Sang Guru dapat
dikenal, melaluinya juga filsafat dapat berkembang di Yunani, bahkan di
Indonesia sampai saat ini. Plato yang ketika Sang guru meminum racun, ia
berusia 29 tahun, usia yang cukup matang untuk memperdalam filsafat. Namun, apa
sebenarnya yang dibawa oleh Plato?
Plato, bukan sekadar membawa ajaran seperti halnya para kaum
spohist, yang begitu sangat empiris, menurutnya, hal ini lebih dari hanya
menonton di rumah, atau menyaksikan pertunjukkan pemilihan ratu kecantikan. Ada
hal yang mendasar dari hidup ini yang tidak bisa hanya disaksikan dengan indra,
ada sesuatu yang tersembunyi dari apa yang terjadi selama berribu ribu tahun,
bahkan hingga sekarang.
Bagi Anda yang kini, tengah membaca kata demi kata dari
tulisan seorang yang tidak ada apa apanya seperti saya ini. Ada pertanyaan
mungkin sama dengan yang diajukan oleh sang filsuf, bukan sama, tapi sejenis.
Untuk apa Anda hidup???
Makan, tidur, bangun, cari uang, hingga tidur kembali,
seperti inikah rotasi kehidupan Anda setiap hari?? Atau, makan, tidur, kuliah,
belajar, sampai tidur lagi?? Pernahkan Anda meluangkan waktu barang semenit
untuk memikirkan tentang kehidupan. Untuk apa Anda hidup, siapa Anda, atau bagi
Anda yang percaya bahwa ada dunia yang kekal setelah ini, pernahkah Anda bercermin dan bertanya pada
diri sendiri, apakah akhirat betul adanya?
Tak jarang saya mendengar, baik itu dari teman, sahabat
ataupun orang yang tidak sengaja saya temui di jalan yang mengatakan, “jalani
hidup seperti halnya air yang mengalir”. Namun buat saya, terkadang air yang
mengalir dari hulu ke hilirpun harus terhenti karena bebatuan besar yang
menghalangi air sehingga terhambat untuk segera sampai ke dasar sungai. Lalu, masihkah
Anda menginginkan hidup Anda seperti air yang mengalir??
Yah, hal yang mendasar yang saya sampaikan bukan itu, namun
pemikiran oleh seorang filsuf besar. Tapi, tidak ada salahnya buat kita untuk
merenung sejenak mengenai hal tersebut.
Plato, dengan proyek besarnya meyakini bahwa di balik alam
materi ini, terdapat sesuatu yang kekal, tidak akan musnah. Materi yang
tersusun dari zat zat yang terindrai itu akan musnah bersama musnahnya alam
materi ini, namun materi ini tidak memusanahkan sesuatu yang kekal, sesuatu
yang lebih substansi dari sekadar materi, Itulah alam ide.
Di alam ide inilah semuanya bersifat kekal, tak terbatas dan
alam ide ini bukanlah pengetahuan yang dangkal seperti yang dipahami oleh para
kaum empiris. Dunia yang kekal dan abadi ini bersentuhan dengan hal yang
sifatnya spiritual dan sesuatu yang abstrak.
Saya teringat dengan sebuah analogi yang diceritakan oleh
Jostein Gardeer tentang plato dalam bukunya “Dunia Spohie”. Beberapa paragraf
menggambarkan pemikiran plato seperti halnya sebuah ratusan kue yang dibuat
oleh seorang koki yang handal. Ratusan kue ini jika dilihat sepintas tak
memiliki perbedaan yang menonjol, kue yang satu dengan kue yang lainnya sama,
bentuk, warna, ukuran, semuanya sama. Namun, jika diperhatika secara saksama,
sebetulnya memiliki sedikit perbedaan. Tapi, apa sebtulnya yang ingin
disampaikan oleh Gardeer dalam novelnya itu??
Dari ratusan kue yang persis sama itu (dianggap sama), jelas
memiliki cetakan yang mampu menghasilkan beberapa kue dengan tingkat kemiripan
yang sangat tinggi, hingga menghasilkan ratusan kue. Pahaman Plato yang
dijelaskan oleh Gardeer itu menggambarkan bahwa cetakannya pastilah lebih baik,
lebih sempurna dibanding hasil cetaknya, dari ratusan kue yang dihasilkan itu,
pastilah tidak sebanding dengan cetakan kuenya. Cetakan kue inilah yang
memiliki kualitas kesempurnaan yang lebih tinggi dibanding kue kue itu tadi.
Seperti halnya alam materi dan alam ide. Dibalik keindahan
dan kesempurnaan alam materi, alam ide yang diposisikan sama dengan cetakan kue
pastilah memiliki tingkat keindahan yang jauh lebih dibanding alam materi.
Benar, Plato meyakini jika terdapat sesuatu yang kekal,
abadi. Bagi kaum agamawan, menyebutnya alam akhirat. Di sini tak lagi ditemukan
sesuatu yang bersifat empiris, tidak ada sesuatu yang bisa dinilai dari indra.






No comments:
Post a Comment